Showing posts with label Event. Show all posts
Showing posts with label Event. Show all posts

Sunday, January 27, 2013

Yang Penting Happy

Akhirnya, saya seperti menemukan kembali sedikit bagian yang hilang dari diri saya. Yes, semalam ngedadak banget saya ditunjuk jadi MC acara kantor. Acara tahunan yang digabungkan dengan dua acara rutin lainnya dan dihadiri oleh karyawan (beberapa di antaranya membawa anggota keluarga) dan juga beberapa mitra kerja kami. Sebenernya jadi MC di acara kantor sih udah biasa *sombong mode on, tapi kan biasanya kalo ga pake Bahasa Indonesia ya Bahasa Jepang (heheee yg bahasa Jepang boong =p). Nah, kali ini harus ngemsi pake Bahasa Inggris, belum pernah euy...jadi, agak deg2an juga sih. Tapi karena seneng, ya udah, saya ambil kesempatan ini. Berdua bareng teman saya, Jumat malam kemarin, kami ngoceh aja di panggung. Lumayan, kali ini pasti foto saya banyak deh ;) Oya, untung pake bahasa inggris, walo modal kemampuan yang pas-pasan plus ga tau malu, mendinglah, daripada disuruh ngemsi (jadi mc) pake bahasa sunda, ga bisa hahahaha....

Satu per satu acara selesai dan sebelum pulang, saya nyempetin nyanyi bareng teman saya yang lain, akustikan. Lagi2 modalnya dua, suara yg pas2an dan ga tau malu. Ah, bodo amat, yang penting happy. Lulumpatan, jijingkrakan, yang penting happy :)

Monday, June 18, 2012

Raisha dan Pialanya

....dan dia pun lulus kelas PAUDnya. 

Raisha masih pegang Juara I di kelasnya, alhamdulillah. Ini dia fotonya
Di acara pelepasan siswa TK B Sabtu kemarin, Raisha juga nari. Nari apa? Potong bebek angsa. 


Haha...lucu banget liat anak-anak kecil nari dan saya kagum banget sama guru-gurunya yang super sabar ngajarin dan ngebimbing mereka. 

Bulan depan Raisha naik kelas TK A. "Sukses ya, Kak!"


Sunday, April 22, 2012

Batik; Sejuta Corak, Sejuta Warna, Sejuta Acara

Batik! Sejuta corak, sejuta warna, sejuta acara. Batik bisa dipakai siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Buat kita orang tua? Oke! Buat bayi seperti anak-anak saya? Oke juga! Liat foto Raisha Bayi dan Raihana Bayi pakai batik ^_^

Kakak Raisha dengan You Can See Batik
Adik Raihana dengan Batik Serupa Kakaknya

Buat Mommies Daily, batik juga recommended lho buat krucil-krucil kita sehari-hari main di lingkungan rumah. Nih dia buktinya ;) 

 
Raisha main di taman

 Raihana santai di rumah

Terakhir, pasti batik juga cocok untuk kondangan. Seperti yang dipakai Raihana:


Yuk, kita tanamkan anak-anak kita kecintaan akan negeri kita, termasuk kecintaan kepada batik. Pasti Mommies Daily punya cerita masing-masing tentang Cara Lain Cintai Batik. 
Misalnya dengan cara berpartisipasi di program Satu Batik Jutaan Jari. Caranya, upload cap sidik jari si kecil ke Facebook fan page-nya Kebaikan bodrexin, juga bisa dilihat di twitter @tentangkebaikan. Cap sidik jari ini nantinya akan dibuat menjadi desain batik tertentu. 

Ikutan yuk, jangan sampe ketinggalan!


 

Saturday, April 14, 2012

Rona Kenangan dari Tembok Cina

Waktunya 45 menit untuk kami semua - rombongan -menaiki satu per satu anak tangga Great Wall of China. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, suhu hari ini cukup bersahabat, 23 derajat celcius disertai angin. Matahari cukup membuat mataku silau menatap sekeliling. Kukeluarkan kacamata hitamku, kukenakan ia untuk melindungi mataku. Ah, tentu saja, melindungi mata. Syal sudah menggantung di leherku, siap menghangatkanku jika nanti di atas sana angin membuatku merasa dingin. Backpack kecil sudah melekat di punggungku. Air minum, jaket, payung, make up, obat-obatan, tissue basah, tissue kering, sarung tangan, dompet dan isinya, mukena. Semua ada di sana, siap menemaniku ke dua menara  terdekat yang kupikir dapat kujangkau. Handphone dan kamera tentu saja kubawa, ada di dalam kantung celanaku.


Untuk menjaga tubuhku tetap hangat, hari itu kukenakan tiga lapis baju. Blue jeans, sepatu kets yang membuatku nyaman menapak batu-batu tangga itu, dan sebelumnya sudah kuolesi pelembab di wajahku, kugunakan juga pelembab bibir, dan lotion di seluruh tubuhku.


Kumulai langkahku bersama beberapa orang teman. Satu persatu mereka meninggalkanku, satu per satu kutinggalkan yang lainnya. Satu persatu kujejaki anak tangga di tempat agung ini. Hela demi hela napas mengiringi pengalaman ini. Semakin tinggi, semakin berat, semakin memikat.

Sesekali napasku tersengal-sengal, membuatku bimbang apakah akan kulanjutkan perjalanan ini atau tidak. Namun menara di atas sana cukup memesonaku sehingga kutetapkan keinginanku untuk menuju puncaknya. 



Jutaan orang datang ke sini. Untuk kali pertama, kedua, atau kali keseribu. Jutaan kenangan pasti melekat di dinding dan batu-batu di sini, menyeruak ke relung hati terbawa semilir angin negeri China, membuncahkan rasa rindu dan syahdu manusia-manusia pendaki. 
 
Di satu titik, kulihat berjajar gembok-gembok cinta. Pasangan-pasangan yang mempercayai hal itu, mereka yakin jika mereka meletakkan sebuah gembok bertuliskan nama mereka dan pasangan mereka, lalu membuang kuncinya, maka cinta mereka akan abadi. Memang, kadang keyakinan seperti ini tak sejalan dengan logika. Tapi itulah dinamika manusia, kita hidup bersama aneka keyakinan dan logika.

 
Sudah separuh perjalanan kutempuh, teman yang berjalan di sisiku tidak lagi sama. Penggambaran sederhana kehidupan, bahwa dalam menjalani hidup ini kita bisa bertemu siapapun. Terkadang kita tidak bisa memilih ingin bertemu siapa, namun sebaliknya, terkadang siapa yang kita temui itu mengubah cerita hidup kita. Dari separuh perjalanan ini bisa kulihat pemandangan di bawahku yang botabene adalah langkah-langkah yang sudah kubuat dan kutinggalkan. Terlihat indah, tenang. Separuh perjalan lagi harus kutempuh, kulanjutkan langkah-langkah kecilku.

Ketinggian ini terlihat dan terasa curam. Sekali waktu kurasa begitu lelah dan ingin berhenti, kembali tanpa pernah berhasil menaiki menara. Namun kemudian, kuarahkan pandanganku ke atas menatap menara itu, dan berlalulah aku menuju puncaknya. 

 

Kembali terhenti, di sini aku bertemu dengan beberapa teman lain. Beberapa di antara mereka sudah lebih dulu sampai dan lainnya tiba bersamaan denganku. Seperti hidup, satu cerita lain bersama orang yang lain. 





Ada saatnya pula kita lelah dan kita memilih beristirahat sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan. 





Pikiranku terbang bersama angin. Gembok-gembok cinta di bawah sana masih terlihat jelas di benakku, entah mengapa. Tiba-tiba saja sebuah nama muncul mengejutkanku, seolah membangunkanku dari lamunan. Rupanya kelelahan ini membuatku 'terbang' ke masa silam. Tersadar, kukembali berdiri dan mendaki. Hingga sampai di menara pertama dan menara kedua.




 Aku pun menikmati sensasi pengalaman ini. Di menara kedua ini, aku bersama belasan teman berfoto. Sekadar mengabadikan momen berkesan ini. Kuhirup udaranya, kulihat awannya, langitnya, kurasakan sinar mataharinya hangat mengenai kulit wajahku, China dengan pesonanya.

Aku dan beberapa temanku memutuskan turun setelah itu, sisanya melanjutkan perjalanan menuju menara berikutnya. 

Hal ini mengingatkanku bahwa tidak selamanya kita bersama orang-orang yang ada di sekeliling kita saat ini. Bisa jadi kita memang berpisah ke dua arah yang berbeda, kita meninggalkan mereka, atau mereka yang meninggalkan kita.

Ah, perjalanan ini harusnya menjadi satu perjalanan heroik, tapi entah mengapa aku merasakan sedikit roman dalam pengalaman ini. Kembali kuteringat kepada satu nama yang tadi tiba-tiba muncul di benakku.

Meski tetap disertai perasaan ngeri, perjalanan turun tidak terlalu melelahkan. Di sisi kananku seorang teman berbaju kuning, di depanku seorang teman berkaos hitam, kami bertiga segera kembali ke meeting point. Sesekali kami sempatkan berpose di dalam perjalanan turun kami. Hingga seseorang mengejutkanku dengan sapaannya.

"Rona?" 
"Hai," jawabku.

Lalu dalam beberapa menit kami tenggelam dalam sebuah percakapan kenangan. Dan bisikan doa di dalam hati, semoga kami bertemu kembali.

(Beijing, April 2012)


 

Sunday, December 25, 2011

"Kakak Berani, Bu!"

Kita ga akan pernah tau seberapa besar potensi anak kita, kalau kita tidak menggalinya dengan memberi berbagai stimulus.

Kali ini saya mau share foto-foto Raisha ketika dia mengikuti kegiatan fieldtrip dari sekolahnya sabtu pekan lalu. Tujuan fieldtrip kali ini adalah Tirta Sania, di daerah Ciseeng, Bogor. Temanya adalah outbound. Oya, lupa bilang, sudah satu semester ini Raisha tergabung di PAUD dekat rumah kami.

Raisha (memegang tisu) sedang sarapan bersama teman-temannya.


Raisha (tepat di belakang gurunya) ikut-ikutan tarik tambang ;p


Main pipa bocor, "Ayo, Kak, tutup yang bolong-bolongnya!" (mana si Kakak Raisha?).


Sesi 1 selesai, istirahat dulu makan bakso dan minum air kelapa.


"Kakak berani, Bu!"


Sebenernya si Kakak berani, yang ngeri ibunya dan pemandunya.


Antusias naik kerbau, Raisha dapat tempat di belakang, kejempet.


Tepat di sebelah sang pemandu, Raisha siap menanam padi.


Raisha (kiri) ga mau berhenti menumbuk padi.


Di antara sekian banyak kegiatan, Raisha cuma ga ikutan ini, memerah susu sapi, takut katanya.


Raisha (paling belakang) nyeberang menuju tempat flyingfox. Sayang, ga ada foto ketika dia coba flying fox ;(


Raisha (belakang) di kolam ikan, ragu-ragu membungkukkan badannya.


Selasa lalu, Raisha terima rapor untuk pertama kalinya, dan dia dapat peringkat pertama untuk kelas PAUDnya ;) Alhamdulillah.

"Proud of you, Kak..."

Kata gurunya, Raisha bagus di motorik halus dan daya kreasi. Yang perlu ditingkatkan adalah hapalan-hapalannya ;)

Friday, October 14, 2011

Arisan Perdana

Meski ini cerita tentang ibu-ibu, semua boleh baca koq ;)

Gini ceritanya. Jadi, minggu kemarin akhirnya saya ikut arisan ibu-ibu juga. Setelah hampir 3 tahun 10 bulan tinggal di komplek ini. Whew...!!! Ada aja alasan saya untuk ga ikut dari pertama tinggal di sini. Tahun pertama, arisan sudah berjalan dan lagi tanggung di tengah-tengah, akhirnya ga ikut. Setelah itu pas arisannya udah kelar dan mau mulai lagi, saya balik sementara waktu ke rumah ibu saya untuk lahiran anak pertama. Tujuh bulan di rumah ibu dan akhirnya pas balik mau ikut arisan juga udah tanggung juga. Jadi, dua periode saya ga ikut. Tahun kedua eh...saya dikasih karunia lagi hamil dan melahirkan lagi, balik lagi ke rumah ibu sampe beberapa bulan. Akhirnya, di tahun ketiga saya baru bener-bener bisa menikmati menjadi warga komplek ini. Agustusan, Raisha saya ikutin lomba. Buka puasa bersama, saya ikut. Halal bi halal, ikut juga. Puncaknya ya hari minggu itu saya ikut arisan.

Sebelumnya maju mundur juga mau ikut. Di kepala saya yang namanya arisan ibu-ibu komplek itu rempong, heboh, gossip, dan ajang pamer. Well, ternyata ga seratus persen anggapan saya itu bener. Setidaknya kesan pertama tentang arisan di komplek saya kemarin bagus koq. Emang sih tetep rempong dan heboh, tapi obrolannya bermanfaat juga. Di arisan kemarin kami membahas progress program orangtua asuh dan rencana jalan-jalan ibu-ibu. Program orang tua asuhnya bagus, ngebantu yayasan-yayasan panti asuhan yang ada di sekitar daerah tempat tinggal kami atau yayasan-yayasan yang direkomendasikan ibu-ibu di sini. Nah, tentang jalan-jalan, kali ini rencananya kami mau ke Bogor, no husband, no children ;p

Bulan depan datang lagi ga ya? Mengingat ada dua anak yang jaraknya berdekatan dan lagi aktif-aktifnya, hmm.... paling seperti kemarin lagi, si kakak diajak jalan sama ayahnya, si adik sama ibu :)

Wednesday, August 17, 2011

Napak Tilas Bandung dan Jatinangor

Terinspirasi dari posting Gaphe yang berjudul Hal Gila, saya jadi pengen nulis ini. Jumat pagi pekan lalu, terjadilah percakapan kecil antara saya dan suami saya. Waktu itu saya udah rapi pake pakean kerja, sementara suami saya masih terlelap.

Saya: "Hon, bangun, Hon, udah hampir jam tujuh, nanti kamu telat."
Suami: "Eh, aku belum bilang ya, hari ini aku ga masuk, ga enak badan."
Saya: "What? Trus aku gimana dong?" Saya pegang keningnya emang panas.
Suami: "Aku anter kamu sampe stasiun ya?"
Saya: "Ya udah deh, boleh."

Habis tu suami saya bangun dan mandi. Keluar dari kamar mandi keliatan segeran.
Suami: "Hari ini aku mau ke Bandung, Hon."
Saya: "Hah, ngapain? Ikut dong!"
Suami: "Liat ......(dia sebut sesuatu untuk mobil) di daerah Margahayu. Kamu ga ada kerjaan di kantor?"
Saya: "Wah, deket tuh dari Jatinangor. Ikut yah? Nanti kita mampir bentar ke kampusku dan kosanku dulu. Aku ga ada yang urgent koq di kantor, minggu depan baru seminggu ga boleh ga masuk. Ikut ya, Hon? Aku kan bisa jadi penunjuk jalan. Yah?"
Suami: "Ya udah, trus kamu bilang apa sama bos kamu?"
Saya: "Ah gampang....Eh, tapi kamu bilang tadi kamu ga enak badan?"
Suami: "Kalo ke kantor ga enak badan, tapi kalo ke Bandung nggak koq, Hon."
Saya: "Ih, nakal"

Ya udah akhirnya hari itu kami berdua sama2 bolos kerja. Niatnya, suami saya ke Bandung itu besoknya, hari Sabtu, tapi entah kenapa spontan aja dia membelokkan rencananya. Lebih gila lagi saya, ikut2an bolos, spontan aja pengen ikut. Jadilah kami ke Bandung dan Jatinangor.

Kami lewat jalur parung, bogor, puncak, cianjur, cimahi untuk sampai ke Bandung. Wuih, menyenangkan sekali rasanya jalan-jalan pagi ke bandung lewat jalur ini. Jalanan relatif sepi, jadi kami bisa menikmati saat-saat santai ini. Nyampe di daerah Padalarang, spontan aja saya bilang ke suami untuk ngunjungin kerabat keluarga saya yang tinggal di sini. Mampir sebentar, trus cabut lagi nerusin perjalanan.

Nah, pas di rumah kerabat inilah suami saya nunjukin alamat yang dicarinya. Hohohoooo.....ternyata bukan daerah Margahayu, tapi komplek Margahayu Permai di daerah Kopo. Hahahaha.....saya langsung ketawain dia yang sok tahu itu. Cari-cari akhirnya saya liat ada gapura dengan satu tulisan, trus dengan PDnya saya bilang ke suami saya, "Hon, tuh dia Margahayu Permainya!" Dengan girang saya menunjuk ke arah Gapura itu. Hehehe...ternyata tulisannya bukan Margahayu, tapi Dirgahayu ;p Gantian suami saya yang ngakak ngetawain saya yang sok tahu ;p

Singkat cerita, sampailah kami di alamat yang dimaksud. Selama perjalanan itu, suami saya beberapa kali terheran-heran dengan cuaca yang panas di daerah Kopo ini.
"Ini Bandung, Hon?" Tanyanya.
"Bukan, ini Bekasi," jawab saya ngasal.
"Oh, pantesan," katanya lagi.
"Ya bukanlah, ini juga Bandung, Hon. Cuma emang daerah sini panas," imbuh saya.
"Yeee....kirain bener ini kita lagi ada di Bekasi?" kata suami saya ngeledek, saya cuma tepok jidat aja deh.
***

Selesai urusan mobil, saya langsung todong suami saya untuk nganter saya ke Jatinangor.
"Dari prapatan Kopo yang tadi tinggal lurus doang koq, Hon. Yah?"
Suami saya karena orangnya asik-asik aja akhirnya dia nganterin saya deh ke Jatinangor.

Sampe di Jatinangor, saya bener2 bingung. Well, sekian tahun ga ke sini banyak banget perubahannya. Tata kotanya, jalan-jalannya, dan terlebih lagi kampus saya tercinta, berubah banget, jadi makin keren!!!! Dan saya pun berhasil membuat suami saya mengakui bahwa kampus saya ini memang keren hehehehe.....

Oya, sebelum sampe di kampus saya ini, kami melewati sebuah institusi pemerintahan yang pada beberapa tahun silam sempat membuat heboh dunia pendidikan dengan beberapa kasusnya. Well, sekarang dan dulu memang beda. Meski di gerbang kampus ini masih berdiri dua praja perempuan dan laki-laki di sisi kanan dan kirinya, ga keliatan lagi kemegahan yang dulu saya pernah liat di kampus ini. Melewati gerbang ini suami saya meletakkan tangannya di sekitar alis memberi gesture hormat. Saya bilang, "Apa2an sih kamu, Hon?" Hmmm.....suami saya ini emang asik banget deh, gokil. Love u so much, Hon!

Lalu kami masuki gerbang kampus saya, kami susuri jalan-jalannya sambil saya mengingat-ingat scene-scene yang pernah ada di jalan-jalan ini. Udaranya masih seperti dulu, sama ketika bertahun-tahun lalu saya menuntut ilmu di sini. Kami lihat muda mudi berpakaian serupa. Ada yang hitam putih, ada yang berpakaian kemeja kotak-kotak, ada yang berjaket hijau. Saya tersadar, ini masanya orientasi mahasiswa baru kepada kampusnya. Saya seperti melihat bayangan diri saya 12 tahun silam.

Sampailah kami di kampus Psikologi, kampus saya tercinta. Ga banyak kata yang bisa saya ucapkan. Saya cuma bisa menyapu seluruh area kampus ini dengan pandangan mata saya. Kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah, semuanya indah. Imaji-imaji masa silam berdatangan. Ingin saya ceritakan semua yang pernah ada di sini dahulu, tapi saya ga sanggup. Ada jutaan cerita tercipta di sini, hingga saya berdiri kembali di sini.

Karena waktu kami terbatas, saya ga sempat ambil gambar kondisi kampus saya. Saya hanya benar-benar menikmati suasananya ketika itu. Dua belas tahun lalu, kali pertama saya menginjakkan kaki di sini. Dua belas tahun yang akan datang saya tidak tahu akan bagaimana. Wallahu a'lam.

Kami lalu pergi, berniat meneruskan perjalanan ke kosan saya dulu. Saya tinggalkan kampus saya dengan kesukaan dan senyuman. Mengingat-ingat kenangan yang pernah ada. Kenangan-kenangan itu indah karena ia tidak bisa terulang.

Sore itu setelah mampir ke kosan saya dan menjenguk ibu dan bapak kosan, kami kembali ke Pamulang dengan damai. Saya dan suami saya sekarang menatap masa depan ;)

*ups, mudah2an bos saya dan bos suami saya ga baca postingan ini ya....

Reuni Kecil Tiga Blogger


Tentang acara Senin kemarin, udah ketebak, pasti yang dateng dikit. Bener aja, kemarin itu jadinya saya cuma ketemu sama Raja dan Aulia. Jadi, ini mah bisa dibilang reuni kecil tiga blogger. La wong kami udah pernah ketemu sebelumnya, tepatnya 9 Januari lalu.

Eh, tapi....tapi....biar cuma tiga blogger yang datang....ga berasa cuma bertiga lho, soalnya kagak ada yang bisa diem, bawel semua hahahaha....

Awalnya kami bingung mau duduk dan makan di mana, tapi singkat cerita akhirnya kami pilih nongkrong di gerai pizza yang mengusung nama (sebut ga ya?) Domi** Pizza. First impression saya tentang tempat ini sebenarnya bingung sih, koq sepi pengunjung ya? sementara tempat makan lain di dalam Mal Pejaten Village penuh terisi, koq di sini lowong ya? Kami dengan leluasa bisa milih tempat duduk. Kami pilih nongkrong eh duduk di luar, biar lebih santai gitchu ;)

Karena ini kali pertama kami makan di sini, kami sama2 ga tau mau pesen apa. Saya tanya ke kasirnya menu apa yang favorit di sini? Trus si mbak kasir itu jawab sih tapi saya lupa jawabannya, saya cuma inget ditunjukkin satu gambar pizza yang sering dipesan pengunjung gerai pizza ini. Heee....tapi kami ga pesan itu. Berhubung saya dan Raja beda selera, akhirnya kami masing2 pilih menu sendiri, kami pesan ukuran personal.

Saya pesan chicken, Raja pesan beef. Trus kami ditawari dessert, Raja pilih chocolate muffin, saya pelototin gambarnya...hmmm.....keliatannya enak. Akhirnya saya pesan itu juga. Nah, sekarang giliran pilih menu minuman. Ehm....gmn ya ngomongnya, saya sih kecewa sama pilihan menu minuman di sini. Yang ada cuma soft drink dan air mineral dowang. Ya udin, kami pilih air mineral.

Oya, sebelum kami duduk, pas bayar, si kasir nanya, atas nama siapa? Sebenernya agak bingung juga sih ditanya gitu, tapi ya udah, akhirnya kesebutlah nama Raja. Eng ing eng ternyata ini yang baru kami alami selama seumur hidup nongkrong dan makan di mal. Apa tuh? Jadi cara gerai pizza ini melayani pelanggannya tidak dengan mengantarkan makanan yang udah kami pesan, tapi justru memanggil nama si pemesan. Dalam hal ini berarti nama Raja yang dipanggil. Masuklah Raja menghampiri si kasir lalu beberapa detik kemudian whoahahahahaha.....sebenernya saya pengen ketawa ngakak liat dia bawa2 dus pesanan kami xixixiiiiiii.....

Yup, untuk bisa menikmati hidangan di gerai pizza ini, setelah memesan menu yang dipilih, pengunjung duduk dan tunggu giliran namanya dipanggil. Habis itu datengin deh tuh counter kasir dan ambil pesanan kita. Bawa deh tuh makanan2 itu ke meja kita, baru deh silakan dinikmati ;) Untuk bawa dus2 kecil pizza ini, mereka ga ngasih nampan, jadi coba deh temen2 bayangin Raja bawa dua dus pizza ukuran personal, dua dus tempat makanan pencuci mulut, dan dua botol air mineral.

Heee....tapi kami ga ambil pusing, setelah sama2 komen ttg cara penyajian di sini, kami langsung melahap makanan kami masing2. Alhamdulillah ya *gaya sharini, ternyata rasanya enak bo! Baik pizza maupun muffinnya enak! Untuk ukuran rasa, recommended deh menu di sini. Cuma ya itu, cara penyajiannya aja yang lucu.

Oya, sebelumnya emang baru ada saya dan Raja, Aulia dan suaminya masih di jalan. Nah, pas akhirnya datang bu Aul ke tempat ini, xixixiiiiii....dia ngalamain hal yang sama. Pesan, duduk, tunggu nama dipanggil.....pokoke kayak di dokter aja deh. Setiap pelayan meneriakkan nama pemesan, saya berasa lagi di dokter. Dan tau efeknya buat si pemesan? Efeknya muka kami jadi lucu. Setiap ada nama yang disebut sama pelayan, saya dan Raja sama2 ngakak liat mukanya Aulia yang harap-harap cemas dan mupeng karena lapar hahahahahaaa.................

Ngobrol, ngobrol, ngobrol, akhirnya udah jam 8 lewat, hampir setengah sembilan. Bubarlah barisan. Malam yang menyenangkan. Walo cuma ada tiga blogger yang ketemu, tapi rasanya bertiga belas deh. Rame banget gila!

Saya ga pernah nyangka dunia ini bisa membuat lingkaran baru pertemanan. Saya ga pernah nyangka bisa punya teman2 menyenangkan dari dunia blog ini.

Saran untuk acara berikutnya, kayaknya kalo nanti2 ada acara kopdar lagi, baiknya yang ngundang Gaphe deh. Dijamin pasti banyak yang datang ^_^

Thursday, August 11, 2011

Kopdar Bubar yuks?!

Setelah sore dua hari yang lalu saya ngomel2, sore kemarin alhamdulillah saya ketawa2. Gimana nggak, ngobrol bareng Raja dan Adi Chimenk memang selalu menyenangkan. Ada aja hal yang bisa bikin ketawa, emang dasar pelawak yah? ups...

Terinspirasi dari baca komen2 di postingannya Aulia yang ini, kemarin sore akhirnya saya ajak Raja dan Chimenk conference untuk ngobrolin rencana buka puasa bareng.

Ngobrol, ngobrol, ngobrol, akhirnya ketemulah hari, tanggal, dan tempat. Yup, kami merencanakan kopi darat dengan agenda utama buka puasa bareng hari Senen tanggal 15 Agustus 2011 di Pejaten Village, Jakarta.

Kepikiran untuk ngehubungin beberapa blogger yang ada di Jakarta, tapi berhubung kami ga punya semua kontak blogger2 itu, ya udin, saya posting aja wacana buka puasa bareng ini.

So, buat blogger Jakarta, juga buat blogger luar kota Jakarta yang ada rencana ke Jakarta, atau yang hari itu pas ada di Jakarta (ribet yak?), lewat postingan ini kami undang teman2 untuk ketemuan ya senen depan di Pejaten Village buat buka puasa bareng. Feels free to contact me.... bisa lewat facebook atau email ke rifka.nida@gmail.com.

See you around, friends ^_^

Thursday, July 21, 2011

Training yang Menyenangkan!

Alhamdulillah, sesi training kemarin berjalan dengan lancar. Dunia training memang bukan hal baru buat saya. Waktu kuliah dulu, di salah satu mata kuliah, meskipun secara singkat saya mempelajari hal itu. Terus, pekerjaan pertama saya adalah menjadi bagian dari konsultan manajemen yang notabene banyak ngadain training. Sekarang, salah satu kerjaan saya di kantor pun ga jauh-jauh dari urusan training. Ini catatan mengenai training yang kemarin saya (dan tim saya) berikan untuk mitra kami.

Training diawali dengan sebuah perkenalan kecil. Peserta diminta menyebutkan nama dan sesuatu yang khas dari dirinya. Saya beri contoh, saya adalah Rifka Beng Beng karena saya suka sekali Beng Beng. Setelah itu barulah para peserta secara bergantian memperkenalkan dirinya dengan cara tersebut. Mereka lalu menyebutkan satu atau dua kata di belakang nama mereka, yang khas dari mereka. Di luar dugaan, cara ini benar-benar mencairkan suasana dan lebih jauh, kami dapat mengetahui hal lain dari diri peserta.

Berikutnya, peserta kami bagi menjadi dua kelompok (kelompok A dan kelompok B) dan kami berikan satu lembar kertas A3 dan beberapa buah crayon. Masing-masing kelompok saya minta untuk membuat gambar dengan instruksi tertentu. Kepada masing-masing anggota kelompok A, kami minta untuk memikirkan satu buah objek untuk digambar. Kepada kelompok B saya minta mereka mendiskusikan sebuah objek untuk digambar. Cara menggambarnya adalah bergantian. Jadi, setelah waktu untuk memikirkan gambar bagi kelompok A dan waktu untuk mendiskusikan gambar untuk kelompok B selesai, saya minta orang pertama dari masing-masing kelompok untuk mulai menggambar dalam waktu tertentu. Setelah waktu habis, gantian, giliran peserta lain untuk menggambar.

Hasilnya tentu beda untuk kedua kelompok ini. Dari hasil gambar tersebut, saya minta mereka untuk menyampaikan kesan mengenai kedua gambar tersebut. Apa saja yang ada di kepala mereka, saya persilakan untuk diungkapkan. Kemudian, saya gali pendapat mereka tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan dan saya arahkan sesi diskusi gambar ini ke arah peran masing-masing anggota kelompok. Semua pernyataan berujung ke satu muara, yaitu peran inti mereka.

Berikutnya kami masuk ke materi lain yaitu tentang pentingnya arti sebuah senyuman, penghargaan, dan motivasi. Kalau tadi di awal kami menyampaikan materi melalui gambar, kali ini kami menampilkan potongan sebuah video. Video ini menceritakan seorang petugas validasi karcis parkir yang luar biasa. Setiap orang yang datang kepadanya selalu diberinya senyuman dan pujian yang objektif. Ia selalu bisa melihat hal positif dari orang yang ditemuinya. Efeknya, bukan saja orang-orang menjadi senang karena dipuji, tetapi juga ia jadi memiliki antrian yang sangat panjang. Antrian untuk mendapatkan cap validasi sekaligus senyum dan pujian gratis. Sebaliknya, ketika ia berhenti melakukan itu, orang-orang pun kembali sedih, lesu, tidak termotivasi, dan pergi meninggalkannya.

Sama seperti sesi gambar, para peserta saya minta untuk mengungkapkan apa saja yang terlintas di pikiran mereka. Satu persatu para peserta berbicara dan akhirnya tersampaikanlah pesan yang kami maksud. Bukan dari kami, tapi dari mereka sendiri. Jadi, melalui potongan video ini mereka dapat menyadari betapa pentingnya sebuah senyuman dan pujian.

Materi berikutnya kami sampaikan dengan cara roleplay. Kami menciptakan suatu situasi dan kondisi tertentu untuk roleplay ini, lalu kami minta para peserta untuk meresponnya dengan cara masing-masing. Ketika peserta menunjukkan hal yang benar, kami biarkan ia menyelesaikan apa yang dilakukannya. Ketika peserta melakukan hal yang salah, kami tunjukkan cara kami, cara yang seharusnya. Setelah roleplay selesai, kembali, sesi diskusi merupakan sarana paling tepat untuk menggali perasaan dan pemikiran mereka tentang apa yang baru saja mereka saksikan dan mereka lakukan.

Sudah tiga materi kami sampaikan. Sesi akhir adalah sesi mini quiz. Kami meminta peserta mengisi selembar kertas yang isinya adalah beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi-materi yang sudah mereka terima. Ini penting, untuk mengetahui sejauh mana penyerapan mereka akan materi yang sudah kami sampaikan. Mini quiz ini ditutup dengan pembahasan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan juga pemberian hadiah bagi tiga peserta dengan nilai tertinggi.

Sebelum ditutup, kami minta salah seorang peserta mengulas lagi secara singkat apa saja yang sudah dilakukan dan dipelajari dari pagi hingga siang kemarin, sepanjang sesi training. Dengan begitu, saya yang hari itu kebagian tugas sebagai fasilitator, tidak perlu merangkum hasil training hari itu. Semua materi disampaikan dengan simulasi, tanpa slide sama sekali. Yup, sebab konsep training kami hari itu adalah learning is fun. Terakhir, kami berikan kenang-kenangan untuk dua peserta aktif, sebagai bentuk penghargaan kami kepada mereka.

Nah, tidak selamanya training itu membosankan kan? Karena belajar itu haruslah menyenangkan!

Wednesday, July 6, 2011

Cerita dari Bobo Fair dan PRJ (bagian 2)

Masih ada sedikit cerita lho dari Bobo Fair dan PRJ 2011. Saya lanjutkan ya cerita saya tentang dua event tersebut. Teman2 tau kan lagu ini?

kambanglah bungo parautan
si mambang riang ditarikan
di desa dusun ranah minang

bungo kambang sumarak anjuang
pusaka minang ranah pagaruyuang
dipasuntiang siang malam tabayang bayang
rumah nan gadang

kambanglah bungo parautan
si mambang riang ditarikan
di desa dusun ranah minang

Yup, lagu daerah dari Sumatera Barat ini memang enak didengar dan dinyanyikan. Saya suka lagu ini bukan karena dapat suami orang Minang, tapi ya itu, karena lagunya enak didengar dan dinyanyikan. Jangan tanya artinya, karena saya juga ga tau.

Lagu Kambanglah Bungo ini menarik perhatian saya dan pengunjung-pengunjung lain di Bobo Fair di Jakarta pekan lalu. Sekilas memang tidak ada yang berbeda dari dibawakannya lagu ini, hanya saja, saya tertarik dengan musik pendukungnya yang menggunakan alat-alat musik daerah seperti gendang dan angklung. Ya, di sela-sela tugas saya menjaga stand, saya sempatkan untuk ambil foto ini dan menonton mereka dari jauh.


band lagu-lagu daerah

Tahun ini stand kami ada di dekat panggung. Jadi, dengan mudahnya saya bisa ambil gambar panggung tersebut dan menyaksikan acara-acara yang ada di panggung. Hari itu, selain ada performance lagu-lagu daerah, ada juga performance dari penari-penari cilik. Mereka membawakan berbagai macam tarian mulai dari tari daerah sampai modern dance. Wah, kagum saya melihat anak-anak kecil itu menari. Kalau teman2 pernah dengar multiple intelligence, itu salah satu bentuk kecerdasan juga lho...namanya kecerdasan kinestetik.

Selain nyanyi dan nari, hari itu di panggung juga diadakan lomba memasak menggunakan produk dari sponsor. Saya cuma sempat ambil gambar panggung sebelum masak, bukan pas acara masak-memasaknya. Hehehe...betul sekali karena pas acara masak itu pas saya lagi sibuk2nya juga melayani pengunjung stand kami.


persiapan lomba memasak pasangan ibu dan anak

Nah, udah gitu, pas lagi sibuk2nya juga, datanglah seorang panitia penyelenggara Bobo Fair ini. Dia nanya2 pendapat tentang pelaksanaan Bobo Fair tahun ini. Kebetulan saya sendiri udah tiga tahun berturut2 jaga stand, jadi tahu bedanya dari tahun ke tahun. Dia mengajukan beberapa pertanyaan dan setelah selesai...horeeee....saya dapat souvenir berupa pulpen gendut silver, tapi tintanya ga ijo kayak pulpen The Westin yang dibagi2 Gaphe ;p

Dari kegiatan ini, saya sendiri bertambah pengalaman dan pengetahuan. Bukan saja tentang produk2 anak baik yang sedang in maupun sepanjang jaman, tapi juga pengetahuan tentang pameran itu sendiri. Misalnya, tentang plus minus penempatan stand kami. Dari tahun ke tahun kami memang memilih (dan atau mendapat) lokasi yang berbeda untuk letak stand kami, dari situlah kami belajar letak mana yang paling potensial untuk dikunjungi. Selain itu, dekorasi dan hal-hal lainnya juga penting banget diperhatikan. Tentu disesuaikan dengan tujuan. Jadi, kalau suatu saat kantor teman2 buka stand pameran, jangan ragu untuk ikut jaga stand. Enak koq, nambah pengalaman ;)

Satu lagi deh tentang Bobo Fair ini. Di sini juga ada stand melukis dan mewarnai di kaos.



Buat teman2 yang sudah punya anak atau yang baik sama ponakan, datang deh ke Bobo Fair. Seru! Plus tiketnya juga murah; Rp 10.000 weekday dan Rp 15.000 weekend. Nah, karena Bobo Fair Jakarta udah selesai, bagi yang pengen berkunjung ke Bobo Fair, saya informasikan aja ya...Bobo Fair bakal diadakan juga minggu ini di Surabaya dan Makassar. Silakan hubungi Gaphe kalau mau tau lokasinya di mana. Sori ya, Phe, bawa2 namamu ;p

Lalu...lalu....kita ke PRJ ya sekarang. Kemarin saya cerita, sebelum pulang kami sempatkan beli oleh2 snack yang dibungkus plastik besar. Satu bungkusnya Rp 10.000. Saya beli lima bungkus. Eh, setelah bayar, saya dikasih hadiah kipas tangan. Trus dengan entengnya saya bilang, "Makasih ya, Mbak, tapi anak saya dua nih, boleh minta satu lagi ga?" *cengarcengir* Kata si Mbak kasirnya, "Ga bisa, Bu, beli satu lagi baru dapat satu kipas lagi." Oh...ternyata ini kalau beli tiga dapat satu kipas toh. Ga mau nyerah, saya bilang lagi. "Waduh, Mbak, kalo beli satu lagi kebanyakan.....minta kipasnya aja dong, Mbak, boleh ya...nanti anak2 saya berantem nih berebutan." Xixixiii....trus dengan muka kesel si Mbak ngasih saya satu kipas lagi. "Makasih ya, Mbak." Kata saya sambil senyum. Di belakang saya, pasukan saya geleng2 kepala ngeliat saya ga tau malu minta kipas tadi ;p

Sambil nyusurin hall menuju pintu keluar, kami melewati berbagai macam stand. Si mbak2 pengasuh anak kami di belakang kami. Lalu tiba2 pengasuhnya adik memberi sesuatu ke si kakak yang sedang digandeng ayahnya. Mau tau apa? Foto Smash berukuran postcard! Wah....si kakak seneng banget. Langsung dia pamer ke saya, "Ibu, Ibu, Cemes (Smash), Bu." Sambil menyodorkan foto tersebut ke saya.


si kakak dapat foto smash

Waduh....anak segitu aja udah doyan Smash ya, baru juga dua setengah tahun. Weleh...weleh... Saya jadi ingat, paginya sebelum berangkat ke PRJ, eyang (ibu saya) ngajak ngobrol si kakak. Kata eyang begini, "Kak, ayah ganteng apa jelek?" Kata kakak, "Gateng dong, Ayah Among kan gateng. Cemes juga gateng." Wakakakakak....kami semua yang denger ngakak, katanya, "Ganteng dong, ayah Ramon kan ganteng. Smash juga ganteng." Hhihiii....parah nih, anak segitu udah bisa ngomong gitu ya? Dua2nya, si kakak dan si adik seneng smash. Haduh...bahaya nih pikir saya. Pasti kebanyakan nonton TV.

Kalau teman2, suka Smash juga?


Monday, July 4, 2011

Cerita dari Bobo Fair dan PRJ

Alhamdulillah....walau diawali dengan hari yang mengesalkan, tapi pekan kemarin akhirnya ditutup dengan hari yang benar-benar menyenangkan ^_^

Di posting yang ini saya cerita tentang hari Senin saya yang bener2 jadi ujian kesabaran buat saya. Kali ini saya mau cerita tentang hari Jumat dan Minggu yang menyenangkan.

Teman2 tahu kan ya ada Bobo Fair di limat kota besar di Indonesia? Salah satunya adalah di Jakarta. Nah, Jumat kemarin saya dan dua orang jaga stand kantor kami di Bobo Fair Jakarta. Ngapain aja kami di sana? Yang pasti, karena tujuan kami buka stand di sini adalah Branding, maka kami berusaha melakukan branding ke masyarakat luas khususnya pengunjung Bobo Fair ini. Di sana kami membagikan brosur, memberi penjelasan2 tentang brand kami, menarik perhatian anak2 untuk mencoba kegiatan di stand kami, dan pastinya bagi2 paket souvenir untuk para pengunjung stand. Seru banget karena kami harus terus menerus berdiri dari pagi sampai sore; kami jaga untuk shift pagi yaitu pukul 09.00 s.d pukul 15.00.

Sebenarnya kali ini saya kebagian hari yang biasa aja, bukan hari puncaknya. Jadi, pegal2nya pun biasa aja. Ga seperti tahun lalu yang poll bener pegalnya karena dapat hari jaga puncak. Hmm....namanya pengunjung ada2 aja responnya, ada yang menyenangkan, ada yang menyenangkan banget, ada juga yang menjengkelkan. Well, tapi semua harus dihadapi dengan senyuman. Biarpun begitu....saya senang koq, senang banget. Ya, saya memang senang ketemu banyak orang. Hari itu, saya ketemu banyak anak dan orang tua.

Di Bobo Fair ini ada banyak sekali stand. Wah, kalau diceritakan satu per satu bisa puanjang buanget nih posting. Intinya segala macam keperluan anak ada di sini deh, mulai dari pernak pernik sampai urusan yang besar seperti urusan tabungan pendidikan anak. Sayang sekali untuk di Jakarta dan Pekanbaru Bobo Fairnya udah selesai kemarin. Setahu saya, Bobo Fair juga akan diadakan di Bandung, Surabaya, dan Makassar. Nah, buat teman2 di tiga kota tersebut, datang deh ke Bobo Fair, ajak anak atau ponakan, seru deh pokoknya. Ada pentas-pentas yang bisa kita tonton juga.

Oya, selesai jaga, kami ga langsung pulang, curi2 waktu dulu untuk muter2 bentar keliling semua stand. Hasilnya, .... ini dia, foto saya (dan teman saya) di koridor menuju pintu masuk Bobo Fair ;)

ini saya lagi gelitikin kelinci

tersesat

Itu cerita tentang saya di Bobo Fair. Berikutnya, saya mau cerita tentang akhir pekan kemarin. Hari Minggu kemarin, bener2 baru kemarin, saya dan pasukan saya ke Jakarta Fair aka Pekan Raya Jakarta (PRJ). Kali ini selain sama suami, anak2, ada juga kakak dan adik saya ikutan. Berangkat habis zhuhur dari rumah eyang dan pulang habis maghrib. Cape, tapi senang!

Karena arena ini besar buanget, akhirnya biar waktunya efisien kami langsung liat peta, cari tempat ke mana kami akan menghabiskan waktu sore itu. Nah, berhubung jalannya sama krucil2 saya, kami putuskan untuk datang ke Hall E, hall yang kebanyakan isinya untuk anak2. Habis ke Hall E, kami ke arena bermain anak2. Sebenarnya, ini bukan cuma buat anak2 sih, karena orang dewasa pun bisa menikmatinya. Meski permainannya adalah permainan standar, tapi karena perginya bareng2 itulah yang membuat hari kemarin jadi benar2 berkesan. Di arena bermain ini ada flying fox, perahu2 batere, mau dayung perahu juga ada, bola air, mandi bola, kincir2, karusel, sewa becak, kereta2 kecil, dan masih ada beberapa permainan lagi yang bisa kita nikmati bersama keluarga.

perahu kuning

Ini dia salah satu foto kami. Dress code hari itu untuk saya dan suami adalah jeans dan baju putih sedangkan anak2 jeans dan kaos belang2.

Oya, habis main2, kami putar puter liat2 stand2 yg ada di sini. Pas lagi keliling, cling...cling...ada yang kinclong menarik perhatian. Yup! Dialah Indra Herlambang. Tahu kan siapa dia? Kalo ga tau, googling aja sendiri ya :p Pengasuhnya kaka dan adik seneng banget ngeliat si Indra dan inilah hasilnya...foto Mbak2 bersama Mas Indra.

si Oshin ga mau ketinggalan tuh...

Lupa kan tuh. Kemarin juga ada cosplay. Itu tuh...festival berpakaian ala tokoh idola kita. Seneng sih liatnya. Ada yang pake baju satria baja hitam, naruto, srikandi, gatotkaca, dan masih banyak lagi. Performancenya juga oke banget, bandnya keren2. Tapi sayang sungguh disayang, kakak takut ngeliat orang dengan kostum2 tersebut. Akhirnya sementara saya, suami, dan si adik nonton, si kakak dilarikan ke candi2an sama pakdenya ;)

ini sedikit di antara banyak peserta cosplay


si kakak yang ketakutan

Terus...terus...di sini juga ada rumah hantu. Ada hantu2 dengan segala rupa berseliweran. Bahkan ada stand khusus untuk foto2 bareng mereka dan itu laku banget! Tapi...lagi...lagi...kakak ketakutan, si adik nggak. Mungkin karena adik belum ngerti ya... Jadi, cuma adik yang difoto di area ini.

si adik seneng2 aja tuch ;)

Hmm...tentang makan, kami makan di satu resto, kami pilih saungnya karena butuh tempat yang luas buat krucil2 kami. Sementara kami makan, si kakak malah duduk di mejanya. Kakak...kakak...

asyik duduk di meja sampe akhirnya numpahin minuman

Sebelum pulang, kami sempatkan ke hall yang isinya produk gadget2 canggih. Pengen sih berlama2 di sini, tapi kasihan anak2, udah cape. Jadi, cuma sebentar lah kami di hall ini. Hiks...saya pun tidak sempat liat baju2.

Sebelum pulang, kami beli oleh2 dulu buat semua. Ya udah, segitu aja ceritanya, mau siap2 ngantor. Kalau diceritain semua...bisa puanjang buanget nih posting. Singkat cerita...kami semua pulang dengan senang ^_^

Semoga hari teman2 semua menyenangkan!!

Saturday, July 2, 2011

Mindshare Publishing

Punya dua anak ga mengurangi minat saya akan dunia tulis menulis. Akhir pekan ini aja, salah satu agenda saya adalah mengedit naskah seorang teman. Beda banget rasanya, antara nulis dan ngedit. Kesenangan yang didapatkan pun beda dan saya suka dua-duanya. Nah, kalau udah jadi buku, beda lagi rasanya, antara nulis dan memasarkan buku kita. Semuanya menyenangkan karena semuanya punya cerita yang berbeda. Romantika dan dinamika.

Ngomong-ngomong soal tulis menulis, di postingan kali ini saya mau share tentang kegiatan lain saya. Lewat bendera Mindshare Publishing, saya dan (tiga orang teman) siap memfasilitasi teman-teman yang ingin membukukan naskah teman-teman.

Kalau teman-teman punya naskah di komputer, blog, catatan online maupun catatan offline, jadikan buku saja! Naskah itu pasti jadi sesuatu yang lebih terstruktur dan berkesan. Percaya deh! Dengan demikian, teman-teman bisa merealisasikan impian teman-teman punya buku sendiri.

Lewat Mindshare Publishing, teman-teman tidak perlu menunggu berbulan-bulan atau bertahun-tahun menunggu keputusan penerbit akan nasib naskah teman-teman. Serahkan saja naskah teman-teman ke kami dan dalam waktu 2-4 pekan naskah teman-teman akan menjadi buku yang berkualitas.

Paket yang kami tawarkan ke teman-teman adalah Paket Super (Rp 500.000). Dengan paket ini teman-teman akan dapat:
1. editing pengetikan dan EYD
2. pembuatan layout buku
3. disain cover
4. satu kali proofread isi dan cover
5. satu eksemplar buku jadi

Paket ini tidak termasuk:
1. biaya cetak jika teman-teman ingin memperbanyak
2. editing profesional (editing isi, tata bahasa, susunan kalimat, keterkaitan antarparagraf). jika teman-teman menginginkan editing ini, biayanya adalah Rp 3000 per halaman.

Kalau berminat, teman-teman silakan hubungi saya di rifka.nida@gmail.com

Selamat menulis ^_^

Wednesday, June 22, 2011

Selamat ya!

Selamat ya buat para pemenang kontes from Bali with giveaway yang diadain Gaphe. Saya ikut senang, buktinya nih saya tersenyum ^_^ oya, moga hadiahnya bermanfaat ya...


Ini cuma postingan sederhana. Cuma mo sharing aja, mo ngasih tau aja kalau saya tuh sekarang lagi seneng juga. Soalnya saya juga dapat sesuatu. Apa itu? Nih dia....sebuah amplop hitam putih motif zebra!



Jadi ceritanya, ada seorang teman saya beli buku saya. Nah, pas dia bayar, dia masukin uangnya ke dalam amplop handmade-nya dia itu....wuih....seneng banget deh! Gimana nggak, saya kan maniak hitam putih :) jadi, biarpun benda kecil seperti amplop juga saya seneng. Saya simpan nih amplop buat koleksi.

Yo wis, gitu aja deh. Sekali lagi selamat buat yang menang ya!!!

Tuesday, June 14, 2011

Kupon Merah Itu Disobeknya

Masih dari Bali. Kali ini cerita tentang si kupon merah.

Karena selama konferensi saya bertugas di front desk sebelum dan menjelang selesai acara, maka saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Salah satunya adalah bahwa sebelum acara hari pertama usai, kepada kami semua kontingen dari Indonesia, dibagikan secarik kertas merah. Pada saat technical meeting memang hal ini sudah disampaikan, tapi saya benar-benar lupa. Inilah yang terjadi kemudian.

Selepas tugas, sore itu sambil berjalan menyusuri koridor tempat konferensi berlangsung, saya bertanya kepada seorang teman, "Eh, apaan tuh?", menunjuk pada secarik kertas merah. Lalu teman saya menjawab apa gerangan itu. Mendengar jawabannya, sontak saya panik, mencari teman saya yang bertugas di meja yang sama dengan saya, yang membagi-bagikan kertas merah itu kepada sejumlah orang di meja kami. oow...saya tidak menemukannya. Cari punya cari, telpon punya telpon, tanya punya tanya, singkat cerita, akhirnya saya dapat juga kertas merah itu. Alhamdulilllah.....

Dari tempat konferensi, kami semua kembali ke hotel. Nah, belum ada yang istimewa di lobi hotel ini sampai tiba waktu makan malam. Waktu itu, saya sudah duduk manis sama Gaphe dan seorang sahabat saya. Udah foto-foto segala. Seperti kata Gaphe, kopdar ga lengkap kalo ga poto-poto (potonya udah dipajang ya di blognya Gaphe, yang saya pake baju tosca itu lho). Lalu masuklah beberapa sms. Ada yang nanya barang hilang, milik tiga orang, masing-masing yang hilang itu adalah kamera, tas jinjing berisi buku-buku, dan award. Ada juga sms yangmasuk nyari orang hilang. Maksud saya menanyakan keberadaan teman yang ga ketauan juntrungannya. Ada juga yang nanyain kertas merah itu.

"Rif, ada kupon lagi ga? Wisnu nanya nih, kuponnya dia sobek, dia pikir itu sampah" itu isi sms yang masuk ke saya. Ada tiga sms serupa. Ahahaaaa.....trus saya jawab, "makanya, jangan maen sobek maen buang aja" hehehe....tapi dalam hati aja sih ngomong gitunya.

Jadi, kertas merah itu adalah kupon makan malam kami di hotel. Sebelum makan, kami harus menunjukkan kupon itu dulu ke petugas hotel. Petugas hotel akan menyobeknya menjadi dua bagian. Satu bagian untuk kami pegang, satu bagian lagi untuk mereka.
Akhirnya, saya kasih petunjuk aja tiga orang yang ga punya kupon merah itu. Di siapa mereka bisa mendapatkannya. Alhamdulillah, mereka masih kebagian makan malam.

Hal sepele yang berdampak cukup besar. Bisa aja tiga teman saya tadi ga ribut minta kupon merah. Mereka tinggal cari makan keluar hotel atau pesan di hotel. Tapi ga semudah itu kan? Hotel ini letaknya di Nusa Dua yang notabene jauh dari mana-mana.

Nah, pelajarannya dari sini, jangan sepelekan hal-hal sepele di sekitar kita. Itu aja sih ^_^

Saturday, June 11, 2011

...dari Bali...

Acara konferensi di Bali pekan lalu menjadi ajang kopi darat saya bersama Gaphe, si pemilik blog Gaphe Bercerita. Seperti biasa, bertemu dengannya memang selalu menyenangkan. Kami jalan-jalan bareng, makan, belanja oleh-oleh bareng, dan ga lupa, foto-foto.

di Krishna, pusat oleh2

Untuk urusan cerita, Gaphe lebih hebat daripada saya, ceritanya selalu menarik! Silakan simak cerita-ceritanya di blog gaphebercerita.blogspot.com. Kalau saya, saya baru membuat tiga postingan kecil tentang perjalanan ke Bali ini. Satu postingan ini, satu lagi cerita tentang Nasionalisme Tujuh Kurcaci, dan satu lagi tentang eksotisme Nusa Dua dalam puisi Nusa Dua Bersama Ilusi.

Foto di atas adalah foto yang diambil pake kamera poket saya. Makanya hasilnya ga bagus ;p Itu adalah gerbang menuju hotel tempat kami menginap. Malam itu, kami berlima jalan kaki dari hotel menuju Bali Collection. Ada cerita apa di sana? Gaphe pasti akan bercerita. Tunggu aja kisahnya!

melihat Gaphe, apa ya yang ada di pikiran 3 wanita itu

Sekilas saja, karena kami (Gaphe dan saya) di kantor sering mengadakan event kecil maupun besar, kami menjadi terbiasa dengan hal-hal tersebut; mulai dari mempersiapkan hal yang besar sampai ke perintil-perintilannya. Di Bali kemarin, kami kebagian tugas yang berbeda. Gaphe bertugas di meja registrasi dan di kamar dubber dan saya bertugas di information desk dan juga seksi perlengkapan untuk dinner party. Di information desk tersebut saya bertanggung jawab atas sejumlah 591 set receiver dan menyediakan informasi termasuk info barang hilang. Kalau Gaphe, tanggung jawab utama dia adalah sebagai translator; menerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Wuih, keren kan?! So, kalau udah begini, teman2 tau kan kami berbakat di beberapa bidang? Kalau tsuatu saat teman2 butuh MC, moderator, narator, fotografer, properti, atau make up artis., hubungi kami (Gaphe dan saya) aja ya!

Hmm....terakhir, saya belum bilang ya, saya baru aja merilis buku pertama saya; HitamPutih; kumpulan catatan perjalanan. Bukunya tentang apa? Teman-teman boleh klik link ini. Pesan langsung ke saya juga boleh. Kirim saja email ke rifka.nida@gmail.com.


Nah, Kalau butuh orang disain grafis, silakan hubungi Huda Tula, pemilik blog Rumah Review. Cover buku saya yang bikin dia lho....

Makasih sudah berkunjung ya, Teman2.

Nasionalisme Tujuh Kurcaci


Adegan demi adegan masih tergambar jelas di benak saya. Bait demi bait kalimat dialog masih terngiang-ngiang di telinga saya. Percakapan biasa, antara putri salju dan tujuh kurcaci, dalam pencariannya akan pangeran pujaan, di Indonesia.

Itulah sedikit gambaran mengenai operet yang kami suguhkan kepada peserta konferensi di Bali pekan lalu. Peserta adalah asosiasi perusahaan kami dari beberapa negara asia oceania. Dalam operet itu, kami memperkenalkan beberapa kebudayaan Indonesia yang sebagian besar melalui tari-tarian daerah.

Tidak seperti biasanya, tujuh kurcaci yang menemani putri salju malam itu mengenakan pakaian-pakaian adat daerah-daerah di Indonesia. Masing-masing mereka mengenakan pakaian adat Melayu, Jawa, Betawi, Bali, Makassar, Kalimantan, dan Papua. Saya yang kali ini bertindak sebagai kru properti dan make up artis, mengikuti operet ini sejak awal latihan, tergugah rasa nasionalisme saya.

Betapa tidak, meski lahir dan besar di bumi pertiwi, hanya sedikit yang saya tahu tentangnya. Kemarin, para kurcaci itulah yang memperkenalkan kembali keanekaan dan keanggunan bumi kita tercinta ini.

Masing-masing kurcaci ini mengantarkan sang putri ke tujuh daerah di Indonesia. Secara tidak langsung, kurcaci-kurcaci ini menunjukkan keunikan masing-masing daerah yaitu antara lain melalui tari Saman, tapi Yapong, tari Kipas, tari Satria Brasta, dan satu lagi tarian khas daerah Papua, saya lupa namanya ;)

Lalu, hal spesifik apa yang membuat rasa nasionalisme saya tergugah? Pertama, multimedia yang mengiringi pertunjukkan operet ini. Di video yang ditampilkan sebagai pengiring para artis masuk dan memainkan perannya, ditampilkan gambar berbagai macam hal yang khas daerah tersebut. Wuih....di kesempatan pertama latihan, saya merasakan rambut-rambut halus di tangan saya berdiri. Merinding. Dari multimedia tersebut saya merasakan betapa besarnya Indonesia.

Kedua, ketika saya harus mengurus properti yang dibutuhkan para artis. Karena ini memperkanalkan budaya Indonesia melalui pakaian dan tarian daerahnya, otomatis saya bersentuhan dengan kostum-kostum para pengisi acara. Ketika memilih-milih baju, kembali, saya merasakan kekaguman yang luar biasa kepada tanah air kita ini. Ada banyak sekali baju daerah yang kita miliki. Bahkan, karena urusan baju ini pula sempat terjadi sedikit masalah antara kami (seksi properti) dan pemeran kurcaci dari Papua. Lho, masalah apa? Ya, teman saya yang berperan sebagai kurcaci Papua ini tidak mau mengenakan baju adat Papua. Tidak mau! Pokoknya tidak mau! Begitu katanya.

Teman-teman tahu apa yang membuat dia tidak mau mengenakan baju adat tersebut? Yup! Pasti karena dalam pikirannya baju adat Papua adalah koteka. Memang benar, koteka adalah pakaian adat dari sana. Tapi, ada satu hal yang mungkin teman-teman belum tahu. Ternyata Papua juga memiliki satu baju adat lain. Modelnya mirip dengan baju adat Dayak, hanya saja ciri khasnya beda, baik dari warna maupun dari ornamen. Sayang, di foto yang saya unggah di atas tidak terlihat baju adat Papua ini. Tapi, intinya, dari sini saya sadar, kita orang Indonesia memang masih sedikit saja tahu tentang Indonesia.

Mengenai kostum ini, masih ada hal menarik bagi saya. Ini kali pertama saya mengurusi orang-orang mengenakan beberapa pakaian daerah. Yang tersulit bagi saya malam itu adalah memakaikan dan mendandani MC dan kurcaci dari Bali. Karena acara ini diadakan di Bali, MC mengenakan pakaian Bali pula. Agak rumit, tapi menyenangkan membantu mereka berdandan.

Dari pentas ini, saya baru tahu bahwa tari Satria Brasta itu keren banget! Tarian ini merupakan satu rangkain cerita. Jika kita mengikutinya secara seksama, kita akan merasakan emosi dari setiap gerakan itu berbeda. Emosi kita akan terbawa oleh tangan, kaki, dan tubuh para penari ini menjadi suatu fluktuasi yang tidak terkira. Saya tidak menyangka sedemikian hebatnya budaya kita ini.

Lain lagi tari Kipas. Melihat tarian ini, saya terpesona dengan warna-warni cerah yang disuguhkan para penarinya. Gerakan demi gerakan terlihat anggun. Saya pun berdecak kagum dengan kebudayaan kita yang satu ini. Betapa tiap daerah di Indonesia memiliki keunikan masing-masing.

Satu hal lagi yang menarik perhatian saya adalah tarian dari daerah Papua. Kontras dengan tari Kipas, tarian ini benar-benar menggugah semangat juang. Hentakan-hentakan kaki para penari disertai teriakan khas mereka membuat kita bangun dan memusatkan pandangan mata kita ke mereka. Ya, saya tergugah, betapa hebat negeri kita ini!

Mengikuti pentas ini dari awal sampai akhir, menjadi bagian dari pertunjukkan ini, sejak persiapan sampai dengan selesai, membuat saya semakin mencintai negeri sendiri. Seperti perasaan yang saya rasakan ketika berada di negeri asing, kala itu saya benar-benar rindu Indonesia. Sebab, meski saya berada di dalamnya, saya tidak tahu banyak tentangnya. Sekarang, saya pikir, tidak ada alasan lagi bagi kita orang Indonesia untuk tidak mencintai negeri kita sendiri.

Pentas di Bali kemarin baru menyuguhkan sedikit dari sekian banyak hal yang kita miliki. Namun yang sedikit itu mampu membangkitkan rasa nasionalisme saya. Kalau tujuh kurcaci bisa mengenal Indonesia dengan baik, mengapa kita tidak? Mari kita bersama berseru, "Saya orang Indonesia, saya cinta Indonesia!"