Monday, February 3, 2014

Generasi Kampung vs Generasi Komplek

Sebelum Anda meneruskan membaca postingan ini, mohon dicamkan bahwa saya ga bermaksud mengaggap salah satu generasi yang saya sebut di atas (judul) lebih baik dari generasi lainnya. Okay?

Baiklah, saya mulai. Saya dan suami saya lahir dan tumbuh di daerah padat di tengah Kota Jakarta. Kalo ga boleh dibilang tau banget, bolehlah kami dibilang tau banyak tentang perkembangan kota ini sejak era 80-an sampai sekarang. Kamilah salah satu contoh generasi kampung yang saya maksud di atas. Sebaliknya, anak-anak kami tumbuh dan berkembang di tengah komplek perumahan di pinggiran Kota Jakarta. Meski mereka lahir di salah satu rumah sakit di tengah Kota Jakarta, tapi tetap saja, saya menganggap mereka salah satu contoh dari generasi komplek.

Memang apa bedanya? Apa juga istimewanya dua generasi ini sampai saya nulis satu postingan tersendiri? Kalo dibilang beda, ya beda banget. Dibilang istimewa, ya istimewa juga karena saya terinspirasi bikin postingan ini gara-gara saya dan keluarga untuk sementara bergabung bersama generasi kampung yang ada di belakang perumahan tempat kami tinggal.

Dua minggu lalu, kami mulai sedikit membenahi rumah kami dan kegiatan bebenah rumah itu mengharuskan kami 'mengungsi' untuk sementara waktu. Yup, di sinilah kami sementara mengungsi, di kampung belakang rumah kami.

Que Sera Sera...bebenah rumah.

Ada banyak cerita pastinya dan kalau saja semua cerita bisa diwakili gambar, pasti penuhlah instagram saya :) *ganyambung. Yang paling menonjol dari kehidupan di sini adalah toleransinya. Sebagai penghuni salah satu rumah petak di sini, saya harus punya toleransi yang tinggi terhadap apa yang terjadi di sekeliling saya. Misalnya, ketika meteran listrik tetangga saya bunyi terus sepanjang hari karena pulsanya hampir habis sementara saya lagi nyut-nyutan sakit kepala karena sakit gigi, fyuh, luar biasa deh! Selain itu ada banyak hal juga yang saya ubah selama tinggal di sini, demi menjaga stabilitas rukun tetangga :) 
Hayooo...rumah yang saya kontrak yang mana?
Terlepas dari itu semua, saya pribadi dan anak-anak juga senang tinggal di sini. Gimana nggak, anak-anak jadi lebih sering jajan karena tetangga kami di sini buka warung jajanan :) hehhee.... bukan karena itu aja sih. Di sini, mereka lebih dekat ke tempat mengaji. Jadi, selama di sini mereka pergi dan pulang sendiri untuk mengaji. Mereka ga tau aja tuh si mbak pengasuh mereka ngikutin kalo mereka berangkat ngaji dan ngawasin mereka kalo udah waktunya pulang ngaji. Mereka bangga banget deh bisa pergi pulang sendiri. Berasa udah gede Kali ya hahahhaa.....:)

Balik lagi ke istilah generasi kampung dan generasi komplek. Generasi kampung biasanya menghabiskan masa kecilnya dengan banyak main bersama teman-teman sekampungnya. Paling nggak, mereka kenal dengan teman-teman sekampung mereka. Beda dengan generasi komplek, mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di institusi formal seperti sekolah dan berbagai tempat kursus. Para orang tua generasi kampung biasanya saling kenal. Generasi komplek? Sebagai gambaran, saya pernah mewawancarai seseorang yang ternyata tetangga saya sendiri, cuma beda beberapa blok doang. Saya juga pernah mendapati dua di antara para peserta training saya adalah tetangga saya, salah seorang di antaranya juga tinggal beberapa blok doang dari rumah saya. Well, mungkin saya aja kali ya yang ga gaol. Tapi begitulah gambarannya, senin sampai jumat kami warga komplek pergi pagi dan balik lagi ke rumah malam hari. Sabtu minggu cape', kebanyakan dipake buat istirahat atau buat main sama anak-anak. Pertemuan warga sekali dalam sebulan, jarrrraaaang banget kami ikuti. Alhasil ya cuma tetangga satu blok aja yang kami kenal banget.

Karena ga semua perlengkapan rumah tangga kami bawa ke rumah petak di perkampungan ini, kami belajar menyiasati keadaan dengan fasilitas yang terbatas. Kami belajar dan mengajarkan anak-anak bertoleransi, misalnya ketika mereka ribut berteriak-teriak atau gedombrangan sementara di rumah sebelah rumah yang kami tinggali ada bayi yang sedang tidur pulas. Kami juga belajar ikhlas dari tetangga kami, terinspirasi dari si babeh yang rajin banget ngebersihin teras rumah orang-orang di sini, termasuk rumah yang kami tinggali. Belajar saling membantu juga dari pertolongan tetangga yang ngangkatin jemuran kami ketika hujan turun dan si mbak lagi nganter anak-anak ke tempat les piano mereka.

Sebagai generasi kampung, kami belajar dan mengajarkan anak-anak kami itu semua.

7 comments:

fitri anita said...

Semua ada plus an minusnya ya mba..kalau saya 10 tahun pertama jadi generasi kampung..selanjutnya komplek ..takut kena gusur sih ..hi hi kok jadi curhat ya

Adi Yulianto said...

gw lebih suka generasi kampung ketimbang generasi komplek. walopun rumah yang akan gw tempati nanti adalah rumah komplek.

someday, gw nemu rumah kampung yang sreg dan dengan status dijual, gw akan segera pindah.haha.


lebih bermasyarakat aja sih menurut gw klo di kampung itu.

Rifka Nida Novalia said...

Fitri Anita: koq takut kena gusur, Mbak? Kan dapat uang gusuran :)
Chimenk: moga lo dapet dua2nya, Menk, kampung dan komplek. Amiin.

Penghuni 60 said...

jujur aku kok baru tau ya ada generasi yg berbeda seperti itu.
yg jls sih generasi yg baik itu yg akan aku dukung :)

Rifka Nida Novalia said...

Penghuni 60: Itu cuma istilah doang, Oom, istilah pribadi dari saya :)

Defa Ramadhani said...

kalau di sikmak dari ceritanya kayaknya lebih baik generasi kampung deh soalnya lebih memasyarakat dan sikap toleransinya lebih ada dan berasa,,tapi generasi komplek juga oke,,

artwoxs said...

loh emanang nya sekarang tinggal di darah mana !!