Sunday, July 10, 2011

Stop Penggunaan Kata Autis Sebagai Olok-Olokan

Saya pikir saya harus menuliskan ini; tentang arti sebuah kata, autis. Berawal dari seringnya saya mendengar orang-orang menyebut kata autis sebagai satu candaan atau bahan olok-olokan di antara kita. Entah itu dalam percakapan sehari-hari atau dalam komentar-komentar di dunia maya. Saya jadi gerah dibuatnya.

Saya yakin, kata autis yang digunakan sebagai bahan candaan itu berasal dari kata autisme. Lalu, apa arti kata autisme itu sendiri? Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitif, aktivitas, dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993).

Jadi, autisme bukanlah penyakit, melainkan suatu kondisi. Bukan penyakit, melainkan suatu gangguan perkembangan yang terjadi pada seorang individu. Saya tidak akan membahas autisme secara detil dan ilmiah. Melalui tulisan ini, saya hanya mengimbau teman-teman untuk tidak lagi menggunakan kata autis sebagai bahan olok-olokan. Stop!

Secara umum, orang-orang memandang penderita autis adalah orang yang sibuk dengan dunianya sendiri, tidak bisa bersosialisasi, tidak bisa berkomunikasi dengan lingkungannya. Ya, sebagian pandangan itu benar. Akan tetapi, pernahkah terpikir oleh teman-teman bahwa mereka tidak pernah mau dilahirkan dengan kondisi seperti itu? Suatu kondisi yang kita anggap beda dengan kebanyakan kita. Suatu kondisi yang pelik dan terkadang sulit dipahami oleh sebagian besar kita juga.

Pernahkah teman-teman memposisikan diri sebagai orangtua anak dengan autisme? Tahukah teman-teman perasaan mereka? Sekali-kali teman-teman tempatkanlah diri teman-teman di posisi mereka. Sekali saja, resapi. Saya yakin, setelah itu teman-teman tidak akan menggunakan lagi kata autis sebagai bahan candaan atau olok-olokan.

Sedikit saja saya ulas, bahwa autisme sendiri masih menjadi perbincangan di kalangan ilmu-ilmu terkait. Berbagai teori tentang penyebab dan pengobatan (terapi) masih sering diperbincangkan. Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya gangguan dalam enam bidang yaitu:
1. interaksi sosial
2. komunikasi (bahasa dan bicara)
3. perilaku-emosi
4.pola bermain
5.gangguan sensorik-motorik, dan
6.terlambatnya perkembangan.

Kita tahu, kebanyakan anak-anak dengan autisme menyukai suatu pola repetitif tertentu. Misalnya, duduk sambil memajukan dan memundurkan badannya berulang-ulang, tiada henti memutar-mutar jarinya di dalam gelas, atau perilaku berulang lainnya. Selain itu, mereka kadang terikat pada suatu perilaku obsesif. Misalnya, suka sekali mengurutkan mainannya menjadi suatu barisan, menempatkan segala sesuatunya pada tempat-tempat tertentu dan tidak boleh berubah, atau dalam kegiatan makan memiliki pola urutan tertentu yang tidak boleh diganggu. Apabila dua bentuk perilaku tersebut (repetitif dan obsesif) terganggu, bisa jadi anak-anak ini marah dan tidak terkendali emosinya. Selain itu, kesulitan berkomunikasi yang mereka alami menyebabkan mereka seperti terisolasi dalam dunianya sendiri.

Orangtua mana yang tidak sedih melihat kondisi anaknya seperti itu? Jadi, alih-alih membuat hal ini semakin buruk, lebih baik kita sama-sama sosialisaikan hal ini; stop penggunaan kata autis sebagai bahan olok-olokan. Saya dengan jaringan saya, teman-teman dengan jaringan teman-teman. Jika satu orang menyebarkan hal ini ke sekian banyak orang lain, semoga semakin banyak orang yang menghentikan kebiasaan buruk ini. Dengan demikian, kita telah berempati kepada sesama. Kita telah berbuat baik kepada mereka.

Lalu, kenapa tidak kita mulai dari sekarang?


37 comments:

Brigadir Kopi said...

yupz, hanya manusia sombong yg merendahkan makhluk lain secara fisik dan mental. toh mereka tak pernah ingin menjadi seperti itu....

salam

KoskakiUngu said...

absolutely agree with this post,

saya juga heran, kata "autis" banyak di gunakan biar terlihat gaul mungkin, ya? padahal kita tidak pernah tau,kali aja ada orang yang kesinggung, or something...dngan menggunakan kata2 itu..
saya dan teman2, anti pake kata2 autis,cacat, dll...
thankz

Lyliana Thia said...

Mulia sekali pemikiran Mba Rifka...
Walau saya gak pernah pakai bhs spt ini, tapi sy belum pernah mengingatkan teman2 saya utk tdk melakukan itu...

Insya Allah, I will spread the words...
Ijin pinjam idenya yah Mba... Mudah2an Mba Rifka diberkahi Allah selalu...

Rifka Nida Novalia said...

Brigadir Kopi: ya, moga kita ga termasuk di antara mereka. amiin.
Kaoskakiungu: wah, bagoes....lead by example tuh.
Lyliana Thia: amiin. makasih,Mbak. Monggo disebarluaskan ;)

nuel said...

mungkin ada baiknya yah menggunakan kata anti sosial aja. ato disingkat ansos. :)

btw anak autis itu seringkali ga keliatan dari luar dan sering juga punya bakat luar biasa. di kampus saya punya temen autis yang Ipnya tuh 4 trus, mba. ckckck....

Opi said...

aiiisshhh, bener juga sihh..

gue termasuk orang yang sering ngatain temen gue pake kata "autis", dengan alasan maha ngawur, "biar ghaoel"..

gue gak pernah sadar kalo kata2 itu bisa bikin ada yang tersinggung..

hhmm, gak lagi-lagi deh..

Sam said...

Saya baru nonton film "Temple Grandin" beberapa hari yang lalu, tentang kisah nyata seorang professor yang mengidap autis... Keinginannya untuk maju dan bisa menjadi professor seperti sekarang ini bisa mengubah pikiran saya tentang autisme...

Nyla Baker said...

wah saya kesindir neh,hhehe..jujur aja sih emank kadang pake kata itu buat ngatain diri sendiri..tapi gak ada maksud untuk menghina atau merendahkan anak2 yang punya kondisi autis..
mungkin kebawa gara2 temen2 srg ngatain saya autis,jiaahh >_<

ok ok, sebisa mungkin kebiasaan itu dihilangkan..thks ya mba pencerahan'a :)

Putri Baiti Hamzah said...

Like this...aku suka banget artikelnya,bahaya mulut udah seperti bom molotov sekarang2 ini,parahnya sebagian orang menganggap candaan 'olok2an terhadap sesuatu' sebagai tren biar dibilang 'gaul'..ckckck..

thanks for reminding^^

Siti Nurul Falah said...

setuju!!!!
:))

Dhe said...

jadi tringat teman blogger jg, nitha. dia jg pernah posting di blognya dengan kata2 "stop meggunakan kata autis sebagai olok" *kalo ga salah* hehehe..yuppy!! untung saya blum pernah dan insyaAllah ga akan pernah olok2 orng pake kata autis :D

Todi said...

setuju banget dengan postingan mbak rifka tentang penggunaan kata autis..

terkadang, penempatan kata yang tidak pada tempatnya memunculkan efek atau dampak negatif serta image yang negatif kpd pihak lain...

mengolok2 saja sudah ga bagus..apalagi ditabha dengan istilah2 yang salah kaprah...

vitta said...

Alhamdulillaah, dunia kami sangat dekat dengan anak-anak berkebutuhan khusus dan belum pernah mendengar ada yang memakai kata autis sebagai ledekan....

joe said...

kalau bisa memilih tentu tidak akan ada yang ingin terlahir sebagai autis, tapi bukankah manusia hanya tinggal melakukan apa yang menjadi nasibnya?

kenia huwada said...

bener banget mbak,..aku juga sempat sebel dg penggunaan kata itu yg kurang pas. Akhir2 ini, khalayak suka asal kalo pake kosakata,..

Sofyan said...

terima kasih Mbak telah mengingatkan,,alhamdulillah saya belum pernah menggunakan kata² autis tersebut sbagai bahan candaan bahkan celaan,,

Bunda Loving said...

syukurlah dikotaku gak pernah kata2 olok2an spt itu...apalagi tetanggaku juga ada anak autis yg sdh usia 19th...tp semua org dari anak kecil dan dewasa sayang kok dgnya dan tdk pernah di jadikan olok2an...

Lidya said...

sudah sering dibahas,tapi masih saja ada yang menggunakan istilah ini ya mbak

auliadriani said...

Betul sekali, ga pantas kata itu sebagai bahan bercandaan, apalagi jika yang pakai asal pakai aja tanpa tau kondisi "autis" sebenarnya..

Huda Tula said...

glad you wrote about this...
yups, stop penggunaan kata autis sebagai olok-olokan..

Masbro said...

Saya dapat link tulisan ini dari Mbak Lyliana Thia. Sebuah ajakan yang benar2 bergizi. Salam hangat;

Adi Chimenk said...

Gw pernah ditegur sama temen yang kebetulan menjadi guru dari anak-anak autis.

semenjak itu, gw berhenti menggunakan kata 'autis', dan ketika ada temen gw yg menggunakan kata 'autis' untuk mengolok2 gw bisa langsung ngebentak dengan keras.

Rifka Nida Novalia said...

Nuel: nah, tuh, kan, artinya kita ga boleh menyepelakan mereka. ya toh?
Opi: yup, masih banyak cara untuk tetap g4o3l kan?
Sam: wah, kayaknya layak tonton tuh film. boleh pinjem ga, Mas?
Nyla Baker: ok, Nyl, kembali kasih...
Putri Baiti Hamzah: ...my pleasure...
Siti Nurul Falah: nah...gitu dong! ^_^
Dhe: iya, jangan ikut2an ya...
Todi: segala bentuk olokan emang ga bagus ya, Mas...
Vitta: kita punya tanggung jawab juga untuk menyebarluaskan hal ini, Mbak.

Penghuni 60 said...

mereka jg kan sama seperti kita, makhluk ciptaan Tuhan jg.
bagus bgt mbak artikelnya, hrs disebarluaskan ke yg lain.

Orin said...

Sepakaaattt...
Semoga lebih banyak lagi yang memahami bahwa olokan itu sangat tidak baik ya mba..

Rifka Nida Novalia said...

Joe: Mas, kita juga perlu menjaga perasaan orang lain.
Kenia: iya, Mbak, di TV juga sering kita denger kan?
Sofyan: iya, Mas, sama2. Jangan pernah deh sekali2 kita pake kata itu buat olok2.
Bunda Loving: alhamdulillah kalao kondisinya kayak begitu, Bun...moga di tempat lain bisa kayak gitu ya...
Lidya: buanget. masih banyak yg begitu, Mbak Lid.
Aulia: Ikut sebarluaskan juga ya, Bu.
Huda: sip! thanks.
Masbro: salam hangat, Mas. makasih udah berkunjung ;)
Chimenk: pelajaran dan pengalaman berharga ya, Menk...thanks udah ikut mengkampanyekan ini melalui gambar lo.
Penghuni 60: makasih...ikut nyebarin juga yach... ;)

Yunda Hamasah said...

Setuju dan mendukung sekalee Mbak...stop olok-olok seperti itu, sekarang juga.

Salam Kenal ;)

Susindra said...

Spektrum autis yang teramat luas membuat orang mudah menemukan kata Autis sebagai bahan ejekan. Yang jelas sahabat saya memiliki anak autis, dan mereka tetap berdayaupaya teramat keras mengatasinya.

nurlailazahra said...

tulisan ini kembali mengingatkanku, makasih mbak. insya Allah dibantu mensosialisasikan judul diatas :)

rezkaocta said...

inspiratif artikel! =)
tkadang buat sbgian org mereka ngerasa it main2, pdhl buat yg ngdengerny bikin kuping panas jg

Ummul Khairi said...

saya punya teman yang adiknya autis mba rif. katanya autis itu sebenarnya anugerah karena tidak banyak anak-anak yang mengidap autis, beberapa di antara mereka memiliki kecerdasan yang luar biasa. well, autis atau tidak saya tetap tidak setuju dijadikan bahan olokan..

Rini Anggraini S said...

Like this post mba...
iya heran yah org2.. autis kuk pada di jadi'in olok2an...

Rini Anggraini S said...

izin share ya mba..

Rajawali said...

izin share bu....

Ikhwan Supriyana alias Aa Ikhwan alias ichoness said...

sip,..ajiib makasih ya udh mengingtakan. nice artikel om

Rochmat Rizky said...

Ok,semoga kita menjadi manusia bijak dan mau berbagi.thks untuk tulisannya,semoga bermanfaat buat kita semua,amin :)

Fatur Rohman said...

temen" gua bilang klo gua udah pegang gadged terutama main game, gua udah kaya gbsa diajak ngmong lagj sampe dbikang autis. "autis banget si lo?" gitu kata mereka. awalnya gua gtw autis itu apa. dan sempet seneng aja si krna gua kira autis itu sejenis kharakter. eh setelah baca artikel ini, ini ya autis sebenernya. gua ga separah itu kellesss,gua masih selayaknya manusia normal. thanks mbak buat pencerahannya