Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts

Tuesday, July 9, 2013

Dalam Kerinduan, untuk Bruges

Ku hanya ingin kembali ke sana
Sekadar menyusuri kota dan berfoto,
Juga duduk di sudut cafe ataupun taman
Itu saja, sendiri, napaktilas perjalanan kami
Di bulan Juni yang romantis.

Membingkai setiap jejak langkah yang pernah ada
Mengabadikan setiap cerita yang pernah tercipta
Jika memungkinkan, akan kukemas semua itu dan kubawa ke Jakarta
Akan kuletakkan satu per satu di langit-langit kamarku
Agar kudapat melihatmu jelas sebelum terpejam mataku
Hingga terbawa ke dalam alam mimpiku

Entah kapan ku bisa kembali ke sana
Menikmati lagi sepi dan dinginnya kota ini 

Meresapi lagi ketenangan sekaligus kesenangan jiwa-jiwa yang ada di sana
Menyatu kembali dengan angin berbisik yang menambah kesyahduan
Tersesat lagi di antara bangunan-bangunan khas nan eksotik yang memesona

Entah bagaimana, aku merindukannya.



Bruges.

Friday, January 4, 2013

Aku Ingin Menjadi Laki-Laki Saja

"Aku ingin jadi laki-laki saja"
Begitu kata klien pertamaku
Baginya menjadi perempuan adalah siksaan
Hinaan sepanjang kehidupan
Penderitaan penuh kekonyolan
Semuanya tidak menyenangkan

"Aku ingin jadi laki-laki saja"
Begitu kata klien pertamaku
Tak ada lagi menstruasi setiap bulannya
Tak ada lagi nyeri yang disebabkan karenanya
Tak ada lagi kerepotan yang menjengkelkan karenanya
Tak ada lagi fluktuasi emosi karenanya
Semua itu tidak menyenangkan baginya

"Aku ingin jadi laki-laki saja"
Begitu kata klien pertamaku
Laki-laki tidak merasakan sakit di malam pertamanya
Laki-laki tidak perlu meringis menahan sakit itu demi pencapaian sebuah kenikmatan

"Aku ingin jadi laki-laki saja"
Begitu kata klien pertamaku
"Aku ingin terlahir kembali sebagai laki-laki"
Begitu kata klien pertamaku 

Sesi itu selesai pukul lima sore
Klien pertamaku pun berlalu
Ia kan kembali di waktu yang telah kami sepakati
Mungkinkah sebagai laki-laki?

...bersambung....
*hanyasebuahfiksi

Monday, April 23, 2012

Menunggumu di China

 


 Hari telah larut, pukul 9.30 waktu setempat ketika kami berkumpul di lobi hotel. Malam ini akan kami jajal keretamu.








Seperti biasa, ada satu rasa mengudara ketika aku termangu di stasiun
Karena di tempat itulah kita biasa bertemu
Selalu ada puisi untukmu dari sebuah stasiun

Terakhir, kutulis "Origami Sakura" untukmu
Ketika itu hari tidak dapat mempertemukan kita
Meski kini pun sama, tak mengapa, ku kan tetap menunggumu hingga tiba

Kereta ini tidak sama seperti kereta di Jakarta
Ia akan menyusuri jalan-jalan di bawah tanah China
Sudah pasti takkan kutemukan kau di sana

Aku rindu, hanya kereta itu yang bisa memahamiku
Betapa dada ini sesak setiap kali ku tak dapat menemukanmu

Kini, bahkan di kereta bawah tanah yang cepat ini pun, kau tetap tak kuraih
Jauh, berapa kilo lagi harus kutempuh?

China, kembalikan aku kepadanya
Antarkan aku dengan kereta bawah tanahmu kepadanya
Kirimkan aku dengan kecepatanmu kepadanya
Jangan biarkan aku kehilangannya



(Beijing, April 2012. Foto-foto milik Safiudin Alwi)