![]() |
| Cape' ya, Kak? |
Catatan-catatan dalam perjalanan saya di bumi Allah. Tentang manusia, tentang cinta, tentang kehidupan. Selamat membaca, selamat memaknai hidup dan cinta.
Monday, January 6, 2014
Salah Satu Momen Penting Raisha; Tes Masuk SD
Monday, January 28, 2013
A Letter for Kiddos
Thanks for always choosing me to be your friend at night. I wish I had more time between 7 am - 8 pm with you.
Thanks for your kindness to help me in our kitchen. Well, someday you'll find out what you really really do and will surely laugh at your self :)
Thanks for "reminding" me not to be so worry with tomorrow. Thanks for inspiring me a lot. Thanks for "teaching" me on how to be brave. Thanks for keeping me smile through my hardest times. Thanks for being my spirit when I'm down. Thanks for everything, Kiddos.
Love,
Ibu
Monday, June 18, 2012
Raisha dan Pialanya
Monday, May 21, 2012
Main Cita-Cita
Adik dan Kakak emang beda. Bukan cuma beda jenis rambut dan bentuk mata, tapi juga karakter. Mengagumkan rasanya liat mereka tumbuh dan berkembang. Subhanallah, Alhamdulillah. Anak-anak memang mengubah dunia dan cara pandang kita terhadap dunia.
Kalau ditanya tentang cita-cita, kakak memang dengan pasti menjawab, "Kakak mau jadi astronot. Astronot kan nanti terbang ke bulan ya, Bu? Terbang ke planet juga kan ya, Bu?" Kalau Adik, "Adik mau jadi puteri" Dengan senyum manis dan suara lembut dia menyatakan cita-citanya. Dia tahu puteri itu pakai baju bagus dan menari. Dia pengen seperti itu :)
Tentang permainan Cita-Cita tadi, selain harus punya banyak perbendaharaan tentang berbagai profesi dan jenis pekerjaan, saya juga harus menyelipkan sedikit penjelasan ke anak-anak tentang apa maksud dari profesi/ jenis pekerjaan tersebut. Saya juga masukkan beberapa pekerjaan yang jarang disebut oleh orang-orang dewasa ketika memperkenalkan cita-cita ke anak-anak mereka, misalnya, ahli gizi dan pustakawan. Saya pikir adalah kesalahan kita orang dewasa yang hanya memperkenalkan dokter sebagai cita-cita. Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, sampai saat ini dokter memang masih menjadi profesi yang bergengsi di kalangan masyarakat kita, sementara masih sedikit anak yang ingin menjadi pengusaha. Betul nggak?
Kita sebagai orang dewasa, yang tentunya udah lebih banyak ngerti tentang dunia, wajib membuka mata, hati, dan telinga anak-anak kita dengan berbagai pengetahuan demi kebaikan mereka, termasuk pengetahuan tentang jenis-jenis pekerjaan/ berbagai profesi yang ada. Tentu saja dengan cara yang menyenangkan.
Terakhir, siapa yang mau jadi blogger? ^_^
Sunday, April 22, 2012
Batik; Sejuta Corak, Sejuta Warna, Sejuta Acara
Sunday, March 4, 2012
Kakak Menang, Bu!

Yeay!!! Kakak menang!!!
Alhamdulillah, di peringatan Maulid Nabi, Jumat lalu, Raisha dapat juara I lomba baca sholawat di sekolahnya. Proud of you, Kak ^_^
Sunday, December 25, 2011
"Kakak Berani, Bu!"
Kali ini saya mau share foto-foto Raisha ketika dia mengikuti kegiatan fieldtrip dari sekolahnya sabtu pekan lalu. Tujuan fieldtrip kali ini adalah Tirta Sania, di daerah Ciseeng, Bogor. Temanya adalah outbound. Oya, lupa bilang, sudah satu semester ini Raisha tergabung di PAUD dekat rumah kami.
Raisha (paling belakang) nyeberang menuju tempat flyingfox. Sayang, ga ada foto ketika dia coba flying fox ;(Kata gurunya, Raisha bagus di motorik halus dan daya kreasi. Yang perlu ditingkatkan adalah hapalan-hapalannya ;)
Tuesday, September 20, 2011
Tentang Menang dan Kalah
Di perayaan Agustusan lalu di lingkungan rukun tetanggarumah kami, Raisha ikutan lomba mindahin air pake sponge dari garis start ke garis finish. Dia dan beberapa anak yang menjadi lawannya dalam lomba itu diberi waktu tertentu untuk bolak balik mencelupkan sponge ke dalam baskom berisi air di garis start, membawanya lari ke garis finish, lalu memeras sponge tersebut ke dalam baskom yang sudah disediakan di situ.
Pluit tanda dimulainya lomba pun dibunyikan, mulailai Raisha beraksi. Dia lakukan apa yang saya perintahkan tadi. Dia mengerti, alhamdulillah. Yang lucu pas dia lari. Ebal ebol ebal ebol pantatnya megal megol bergoyang karena langkah-langkah kecilnya yang lucu. Bolak-balik, kelelahan, dan.....priiit...terdengar bunyi tanda lomba usai. Setelah dilihat hasilnya....eng ing eng.....ternyata Raisha juara dua!!!! Senangnya. Ini pengalaman menang pertama Raisha.
Lain lagi cerita tentang Agustusan di sekolahnya (Raisha ikut PAUD di TK dekat rumah kami). Lomba yang Raisha ikuti yaitu lomba menempelkan alat indra ke gambar yang disediakan. Di garis start ada gambar-gambar alat indra, lalu digaris finish ada gambar wajah. Raisha harus menempelkan alat-alat indra itu dengan cepat dan tepat. Karena saat itu adalah hari kerja, saya tidak bisa menemaninya, saya hanya titip pesan ke pengasuhnya. "Ci, nanti kamu kasih semangat ke Kakak ya, tapi jangan kamu bantuin nempel-nempel biar dia aja sendiri."
Singkat cerita, Raisha kalah. "Kakak kalah, Bu, temen-temennya pada dibantuin Mbaknya, dibantuin ibunya," kata pengasuh Raisha. Saya cuma bilang, "Ga pa pa ^_^ yang penting dia kerja sendiri." Inilah pengalaman kalah pertama Raisha.
Senang rasanya mengetahui anak kita bisa berkompetisi dan memenangi suatu perlombaan. Berat rasanya menerima kekalahan. Dalam suatu perlombaan, menang atau kalah adalah hal yang biasa. Sama seperti pengalaman Raisha atas dua lomba yang diikutinya, menang kalah adalah biasa.
Saya apresiasi kemenangannya, saya pupuk percaya dirinya, saya puji dia atas keberhasilannya. Dari kekalahannya, saya pun memujinya karena sudah berani bekerja sendiri, menyelesaikan tugasnya sendiri. Dan...tanpa mengurangi rasa hormat saya pada orang tua yang membantu anaknya di perlombaan tersebut, saya hanya ingin menanamkan nilai-nilai sportivitas pada Raisha. Itu saja. Kelak ia akan tahu maknanya.
Sunday, July 31, 2011
Dari Batas Hidup dan Mati Seorang Anak
"Bawa atuh...bawa....ka dokter," suara yang tadi kami dengar histeris sekarang melemah, memelas, tipis harapan. Wanita ini, kami yakin adalah ibu dari anak yang sedang berada di garis batas kehidupan tadi. Bajunya basah, sama basahnya seperti anak yang sedang digendong seorang laki-laki yang berusaha menolongnya. Dua, tiga kali laki-laki itu menghembuskan napas bantuan, anak itu bergeming, tetap terkulai lemas dengan seluruh kulit membiru dan mulutnya berbusa.
Dari yang kami dengar, anak ini jatuh ke kolam ikan di halaman belakang rumahnya. Ibunya sedang memasak ketika ia bermain-main di dekat kolam itu. Selanjutnya, bagaimana kecelakaan itu terjadi kami tidak tahu. Yang pasti, kejadian siang kemarin membuat kami sadar akan beberapa hal. Bukan hanya syukur nikmat atas karunia anak yang telah Allah berikan kepada kami, tapi ini juga merupakan peringatan kepada kami sebagai orangtua untuk lebih berhati-hati.
Di atas sepeda motor yang sudah siap melaju menembus jalan raya Cicurug, Sukabumi, anak itu digendong oleh seorang laki-laki yang mencoba menolongnya, menyambungkan tali kehidupan yang hampir putus. Sebelumnya, anak tersebut dibalikkan tubuhnya, kami yakin, ia berusaha mengeluarkan air yang tampaknya cukup banyak tertelan oleh si anak. Setelah dibalikkan, tubuh anak itu dimiringkan dan dua tau tiga orang bergantian memberi pertolongan pertama lewat napas buatan.
Si ibu masih menangis pilu, ia terus saja berkata, "Bawa, bawa atuh....buru bawa ka dokter." Sesekali ia menjerit histeris sambil menarik-narik rambutnya. Berputar-putar, maju, mundur, sambil terus menangis meraung-raung. Saya ingin sekali memeluknya. Sementara itu, suami saya beberapa kali maju dan mundur menghampiri anak itu. Ada yang kurang tepat memang pada pertolongan itu, saya tahu suami saya ingin menarik anak itu, membaringkannya, lalu menekan dadanya, dan memberi napas bantuan, tapi ia ragu.
Situasi dan kondisi panik yang ada kala itu membuat kami urung membantu. Mendengar jerit tangis si ibu yang terus menerus memohon agar anaknya segera dibawa ke dokter, kami yakin akan pemikiran ibu itu bahwa ia menginginkan anaknya segera dibawa ke tempat pertolongan yang pasti. Di sisi lain, orang-orang di sekitarnya justru ingin memberi pertolongan pertama terlebih dahulu sebelum dibawa ke dokter.
Anak itu masih membiru dan terkulai lemas dalam gendongan. Kami lihat bola mata anak itu masih di bawah, masih ada harapan, ucap kami. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya anak tersebut menunjukkan reaksi dan setelah itu barulah ia dibawa ke dokter. Kami hanya bisa berdoa semoga ia selamat.
Sebelumnya, ketika si ibu masih saja menjerit-jerit menangis, seorang ibu lain berkata kepadanya, "Kumaha sih, Neng?....keur naon emang tadi? naha atuh ninggalkeun budak sorangan kitu? aduh, Neng....Neng..." Ah tidak, dalam kondisi seperti itu masih saja si ibu disalahkan. Kasihan. "Mana ada sih orangtua yang pengen anaknya celaka?" gerutu saya dalam hati. "Udahlah.....biar ini jadi pelajaran buat kami semua. Kalau emang mau nanya, nanti ketika keadaan sudah tenang dan harus baik-baik nanyanya," saya geregetan sama ibu yang nyalahin tadi.
Anak itu akhirnya dibawa ke dokter, kami kembali ke dalam rumah. Kemarin memang kami berdua mengunjungi nenek di Sukabumi, tanpa anak-anak. Saya yakin, pikiran kami masing-masing langsung tertuju ke anak-anak kami. Beberapa detik kemudian saya sudah terhubung dengan telepon rumah, ada si Mbak pengasuh yang mengangkat telepon, dari kejauhan saya dengar suara anak-anak berteriak, "Ibu....Ibu....kakak mau ngomong sama Ibu..." Hati saya berdesir ingin menangis. Kejadian hari itu memberi pelajaran berharga buat semua yang menyaksikan, khususnya bagi kami berdua.
***
Setelah melihat kejadian kemarin, saya dan suami saya sedikit berbincang-bincang. Tentang betapa minimnya pengetahuan masyarakat kita akan pertolongan pertama pada kecelakaan. Entah ini salah siapa? Pemerintah kah atau justru masyarakat kita sendiri yang kurang aktif mencari tahu informasi-informasi tersebut. Untuk beberapa kalangan seperti ibu-ibu rumah tangga yang saya ceritakan di atas, saya maklum. Nah tapi, harusnya pemerintah memikirkan gimana caranya mensosialisasikan cara2 P3K ini kepada ibu-ibu rumah tangga. Kenapa? Ya karena yang ada di rumah dan mendampingi anak-anak adalah kaum ibu toh? Saya tidak tahu, apa posyandu atau puskesmas udah optimal fungsinya. Saya pikir, keduanya harusnya ga cuma sebagai lembaga yang menyediakan layanan kesehatan sebagai bentuk kuratif, tapi lebih jauh dari itu seharusnya keduanya juga memberi pengetahuan-pengetahuan preventif. saya pikir banyak kecil namun penting bisa disampaikan ke masyarakat. entahlah...
terakhir, terkait dengan cerita di atas, saya ingin berbagi sedikit informasi tentang CPR, silakan klik link ini.

Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat.
Saturday, July 23, 2011
Dunia Raihana
Tic toc tic toc....Udah jam 6 lewat 15, aku udah bersih, segar, cantik, dan wangi. Kamu, Kak, kamu masih terlelap, mangap. Ibu udah rapi. Sekarang ibu di ruang makan, nyiapin bekal makan siangnya, juga untuk ayah. Ayah di mana? Ayah di kamar, lagi matut-matut diri di depan cermin.
"Kakak." Kudekatkan wajahku ke wajahmu sambil berseru memanggilmu.
"Kakak" dua kali kupanggil kamu belum juga bangun.
"Kakak" tiga kali, susah sekali ya kamu dibangunkan, kak. Gumamku dalam hati.
"Kakak" kali ini kutepuk-tepuk punggungmu.
"Kakak" sekali lagi kutepuk-tepuk, kamu masih blm terjaga juga.
"Kakak" kutepuk-tepuk lagi, kamu memang benar-benar susah dibangunkan ya?!
Kupikir, aku harus mencari cara lain untuk membangunkanmu.
"Aaa....." Tiba-tiba kamu berteriak dan menangis.
"Adik, jangan gigit kakak dong, Dik, sakit. Ga boleh gigit-gigit." Begitu katamu ketika akhirnya matamu terbuka.
"Aku ga pernah bermaksud nyakitin kamu, kak, cuma pengen bangunin aja, sebentar lagi ibu dan ayah berangkat kerja. kakak mau meluk mereka dulu kan?" Andai saja kamu bisa baca pikiranku, kak, itu yang sebenarnya ada di benakku.
Meski matamu sudah terbuka, kamu masih berbaring dan memeluk gulingmu itu. Kuangkat kedua tanganku, berharap kamu ngikutin aku, tapi sepertinya kamu masih malas. Termasuk malas mengangkat tanganmu untuk berdoa. Lalu kuangkat satu tanganmu dan kubiarkan satu tanganku tetap terbuka menengadah. Kuucap, "Amin." Kuusap mukaku dengan satu tanganku. Lalu kuusapkan tanganmu ke mukamu sambil kuberseru, "Amin"
Setelah itu kuberlari meninggalkanmu. Kucari ibu di ruang makan. "Ibu, kakak" kataku kepada ibu.
Ibu langsung meninggalkan meja makan dan bergegas ke kamar tempatmu bermalas-malasan. Tentunya bersamaku. Ya, ibu dan aku berjalan berdampingan. Kata ibu, "Kakak udah bangun ya, Dik?" Ibu benar-benar mengerti aku. Meski hanya dua kata yang kuucapkan, ibu tau apa yang kupikirkan. Aku sayang ibu. Aku juga sayang kamu, Kak.
Ibu yang udah rapi dan bersih tak ragu menciummu yang masih berantakan dan bau. Hal pertama yang ibu katakan, "Kakak udah baca doa?" Kau jawab, "Udah. Tadi kakak baca doa sama adik" aku tersenyum malu sekaligus bangga ketika ibu memujiku pintar.
Wednesday, July 6, 2011
Cerita dari Bobo Fair dan PRJ (bagian 2)
kambanglah bungo parautan
si mambang riang ditarikan
di desa dusun ranah minang
bungo kambang sumarak anjuang
pusaka minang ranah pagaruyuang
dipasuntiang siang malam tabayang bayang
rumah nan gadang
kambanglah bungo parautan
si mambang riang ditarikan
di desa dusun ranah minang
Yup, lagu daerah dari Sumatera Barat ini memang enak didengar dan dinyanyikan. Saya suka lagu ini bukan karena dapat suami orang Minang, tapi ya itu, karena lagunya enak didengar dan dinyanyikan. Jangan tanya artinya, karena saya juga ga tau.
Lagu Kambanglah Bungo ini menarik perhatian saya dan pengunjung-pengunjung lain di Bobo Fair di Jakarta pekan lalu. Sekilas memang tidak ada yang berbeda dari dibawakannya lagu ini, hanya saja, saya tertarik dengan musik pendukungnya yang menggunakan alat-alat musik daerah seperti gendang dan angklung. Ya, di sela-sela tugas saya menjaga stand, saya sempatkan untuk ambil foto ini dan menonton mereka dari jauh.
Tahun ini stand kami ada di dekat panggung. Jadi, dengan mudahnya saya bisa ambil gambar panggung tersebut dan menyaksikan acara-acara yang ada di panggung. Hari itu, selain ada performance lagu-lagu daerah, ada juga performance dari penari-penari cilik. Mereka membawakan berbagai macam tarian mulai dari tari daerah sampai modern dance. Wah, kagum saya melihat anak-anak kecil itu menari. Kalau teman2 pernah dengar multiple intelligence, itu salah satu bentuk kecerdasan juga lho...namanya kecerdasan kinestetik.
Selain nyanyi dan nari, hari itu di panggung juga diadakan lomba memasak menggunakan produk dari sponsor. Saya cuma sempat ambil gambar panggung sebelum masak, bukan pas acara masak-memasaknya. Hehehe...betul sekali karena pas acara masak itu pas saya lagi sibuk2nya juga melayani pengunjung stand kami.
Nah, udah gitu, pas lagi sibuk2nya juga, datanglah seorang panitia penyelenggara Bobo Fair ini. Dia nanya2 pendapat tentang pelaksanaan Bobo Fair tahun ini. Kebetulan saya sendiri udah tiga tahun berturut2 jaga stand, jadi tahu bedanya dari tahun ke tahun. Dia mengajukan beberapa pertanyaan dan setelah selesai...horeeee....saya dapat souvenir berupa pulpen gendut silver, tapi tintanya ga ijo kayak pulpen The Westin yang dibagi2 Gaphe ;p
Dari kegiatan ini, saya sendiri bertambah pengalaman dan pengetahuan. Bukan saja tentang produk2 anak baik yang sedang in maupun sepanjang jaman, tapi juga pengetahuan tentang pameran itu sendiri. Misalnya, tentang plus minus penempatan stand kami. Dari tahun ke tahun kami memang memilih (dan atau mendapat) lokasi yang berbeda untuk letak stand kami, dari situlah kami belajar letak mana yang paling potensial untuk dikunjungi. Selain itu, dekorasi dan hal-hal lainnya juga penting banget diperhatikan. Tentu disesuaikan dengan tujuan. Jadi, kalau suatu saat kantor teman2 buka stand pameran, jangan ragu untuk ikut jaga stand. Enak koq, nambah pengalaman ;)
Satu lagi deh tentang Bobo Fair ini. Di sini juga ada stand melukis dan mewarnai di kaos.
Buat teman2 yang sudah punya anak atau yang baik sama ponakan, datang deh ke Bobo Fair. Seru! Plus tiketnya juga murah; Rp 10.000 weekday dan Rp 15.000 weekend. Nah, karena Bobo Fair Jakarta udah selesai, bagi yang pengen berkunjung ke Bobo Fair, saya informasikan aja ya...Bobo Fair bakal diadakan juga minggu ini di Surabaya dan Makassar. Silakan hubungi Gaphe kalau mau tau lokasinya di mana. Sori ya, Phe, bawa2 namamu ;p
Lalu...lalu....kita ke PRJ ya sekarang. Kemarin saya cerita, sebelum pulang kami sempatkan beli oleh2 snack yang dibungkus plastik besar. Satu bungkusnya Rp 10.000. Saya beli lima bungkus. Eh, setelah bayar, saya dikasih hadiah kipas tangan. Trus dengan entengnya saya bilang, "Makasih ya, Mbak, tapi anak saya dua nih, boleh minta satu lagi ga?" *cengarcengir* Kata si Mbak kasirnya, "Ga bisa, Bu, beli satu lagi baru dapat satu kipas lagi." Oh...ternyata ini kalau beli tiga dapat satu kipas toh. Ga mau nyerah, saya bilang lagi. "Waduh, Mbak, kalo beli satu lagi kebanyakan.....minta kipasnya aja dong, Mbak, boleh ya...nanti anak2 saya berantem nih berebutan." Xixixiii....trus dengan muka kesel si Mbak ngasih saya satu kipas lagi. "Makasih ya, Mbak." Kata saya sambil senyum. Di belakang saya, pasukan saya geleng2 kepala ngeliat saya ga tau malu minta kipas tadi ;p
Sambil nyusurin hall menuju pintu keluar, kami melewati berbagai macam stand. Si mbak2 pengasuh anak kami di belakang kami. Lalu tiba2 pengasuhnya adik memberi sesuatu ke si kakak yang sedang digandeng ayahnya. Mau tau apa? Foto Smash berukuran postcard! Wah....si kakak seneng banget. Langsung dia pamer ke saya, "Ibu, Ibu, Cemes (Smash), Bu." Sambil menyodorkan foto tersebut ke saya.
si kakak dapat foto smash
Waduh....anak segitu aja udah doyan Smash ya, baru juga dua setengah tahun. Weleh...weleh... Saya jadi ingat, paginya sebelum berangkat ke PRJ, eyang (ibu saya) ngajak ngobrol si kakak. Kata eyang begini, "Kak, ayah ganteng apa jelek?" Kata kakak, "Gateng dong, Ayah Among kan gateng. Cemes juga gateng." Wakakakakak....kami semua yang denger ngakak, katanya, "Ganteng dong, ayah Ramon kan ganteng. Smash juga ganteng." Hhihiii....parah nih, anak segitu udah bisa ngomong gitu ya? Dua2nya, si kakak dan si adik seneng smash. Haduh...bahaya nih pikir saya. Pasti kebanyakan nonton TV.
Kalau teman2, suka Smash juga?
Monday, July 4, 2011
Cerita dari Bobo Fair dan PRJ
Di posting yang ini saya cerita tentang hari Senin saya yang bener2 jadi ujian kesabaran buat saya. Kali ini saya mau cerita tentang hari Jumat dan Minggu yang menyenangkan.
Teman2 tahu kan ya ada Bobo Fair di limat kota besar di Indonesia? Salah satunya adalah di Jakarta. Nah, Jumat kemarin saya dan dua orang jaga stand kantor kami di Bobo Fair Jakarta. Ngapain aja kami di sana? Yang pasti, karena tujuan kami buka stand di sini adalah Branding, maka kami berusaha melakukan branding ke masyarakat luas khususnya pengunjung Bobo Fair ini. Di sana kami membagikan brosur, memberi penjelasan2 tentang brand kami, menarik perhatian anak2 untuk mencoba kegiatan di stand kami, dan pastinya bagi2 paket souvenir untuk para pengunjung stand. Seru banget karena kami harus terus menerus berdiri dari pagi sampai sore; kami jaga untuk shift pagi yaitu pukul 09.00 s.d pukul 15.00.
Sebenarnya kali ini saya kebagian hari yang biasa aja, bukan hari puncaknya. Jadi, pegal2nya pun biasa aja. Ga seperti tahun lalu yang poll bener pegalnya karena dapat hari jaga puncak. Hmm....namanya pengunjung ada2 aja responnya, ada yang menyenangkan, ada yang menyenangkan banget, ada juga yang menjengkelkan. Well, tapi semua harus dihadapi dengan senyuman. Biarpun begitu....saya senang koq, senang banget. Ya, saya memang senang ketemu banyak orang. Hari itu, saya ketemu banyak anak dan orang tua.
Di Bobo Fair ini ada banyak sekali stand. Wah, kalau diceritakan satu per satu bisa puanjang buanget nih posting. Intinya segala macam keperluan anak ada di sini deh, mulai dari pernak pernik sampai urusan yang besar seperti urusan tabungan pendidikan anak. Sayang sekali untuk di Jakarta dan Pekanbaru Bobo Fairnya udah selesai kemarin. Setahu saya, Bobo Fair juga akan diadakan di Bandung, Surabaya, dan Makassar. Nah, buat teman2 di tiga kota tersebut, datang deh ke Bobo Fair, ajak anak atau ponakan, seru deh pokoknya. Ada pentas-pentas yang bisa kita tonton juga.
Oya, selesai jaga, kami ga langsung pulang, curi2 waktu dulu untuk muter2 bentar keliling semua stand. Hasilnya, .... ini dia, foto saya (dan teman saya) di koridor menuju pintu masuk Bobo Fair ;)
Itu cerita tentang saya di Bobo Fair. Berikutnya, saya mau cerita tentang akhir pekan kemarin. Hari Minggu kemarin, bener2 baru kemarin, saya dan pasukan saya ke Jakarta Fair aka Pekan Raya Jakarta (PRJ). Kali ini selain sama suami, anak2, ada juga kakak dan adik saya ikutan. Berangkat habis zhuhur dari rumah eyang dan pulang habis maghrib. Cape, tapi senang!
Karena arena ini besar buanget, akhirnya biar waktunya efisien kami langsung liat peta, cari tempat ke mana kami akan menghabiskan waktu sore itu. Nah, berhubung jalannya sama krucil2 saya, kami putuskan untuk datang ke Hall E, hall yang kebanyakan isinya untuk anak2. Habis ke Hall E, kami ke arena bermain anak2. Sebenarnya, ini bukan cuma buat anak2 sih, karena orang dewasa pun bisa menikmatinya. Meski permainannya adalah permainan standar, tapi karena perginya bareng2 itulah yang membuat hari kemarin jadi benar2 berkesan. Di arena bermain ini ada flying fox, perahu2 batere, mau dayung perahu juga ada, bola air, mandi bola, kincir2, karusel, sewa becak, kereta2 kecil, dan masih ada beberapa permainan lagi yang bisa kita nikmati bersama keluarga.
Ini dia salah satu foto kami. Dress code hari itu untuk saya dan suami adalah jeans dan baju putih sedangkan anak2 jeans dan kaos belang2.
Oya, habis main2, kami putar puter liat2 stand2 yg ada di sini. Pas lagi keliling, cling...cling...ada yang kinclong menarik perhatian. Yup! Dialah Indra Herlambang. Tahu kan siapa dia? Kalo ga tau, googling aja sendiri ya :p Pengasuhnya kaka dan adik seneng banget ngeliat si Indra dan inilah hasilnya...foto Mbak2 bersama Mas Indra.
Lupa kan tuh. Kemarin juga ada cosplay. Itu tuh...festival berpakaian ala tokoh idola kita. Seneng sih liatnya. Ada yang pake baju satria baja hitam, naruto, srikandi, gatotkaca, dan masih banyak lagi. Performancenya juga oke banget, bandnya keren2. Tapi sayang sungguh disayang, kakak takut ngeliat orang dengan kostum2 tersebut. Akhirnya sementara saya, suami, dan si adik nonton, si kakak dilarikan ke candi2an sama pakdenya ;)
Terus...terus...di sini juga ada rumah hantu. Ada hantu2 dengan segala rupa berseliweran. Bahkan ada stand khusus untuk foto2 bareng mereka dan itu laku banget! Tapi...lagi...lagi...kakak ketakutan, si adik nggak. Mungkin karena adik belum ngerti ya... Jadi, cuma adik yang difoto di area ini.
Hmm...tentang makan, kami makan di satu resto, kami pilih saungnya karena butuh tempat yang luas buat krucil2 kami. Sementara kami makan, si kakak malah duduk di mejanya. Kakak...kakak...
Sebelum pulang, kami sempatkan ke hall yang isinya produk gadget2 canggih. Pengen sih berlama2 di sini, tapi kasihan anak2, udah cape. Jadi, cuma sebentar lah kami di hall ini. Hiks...saya pun tidak sempat liat baju2.
Sebelum pulang, kami beli oleh2 dulu buat semua. Ya udah, segitu aja ceritanya, mau siap2 ngantor. Kalau diceritain semua...bisa puanjang buanget nih posting. Singkat cerita...kami semua pulang dengan senang ^_^
Semoga hari teman2 semua menyenangkan!!
Saturday, February 12, 2011
Satu Tahun Raihana
Doa kami, semoga kau menjadi anak sholihah, sehat, cerdas, kuat, berguna bagi agama dan masyarakat. Yang terbaik untukmu, Nak, Raihaha, Oshin, Adik Rai.
Kami menyayangimu.
Monday, January 24, 2011
Scene Satu sampai Enam
saya sedang bercermin, bersiap2 berangkat ke kantor, ketika tiba2 si kakak menyodorkan sesuatu ke saya.
Kakak: "Ibu."
Saya: "Ya, Kak?"
Kakak: "Ketek ayah (sambil tertawa)."
Saya: "Haha (ikut tertawa, ternyata yang disodorkan adalah deodoran, dia menyebutnya ketek ayah)."
Ini gambar kakak sedang belajar mengelompokkan warna. Saya lepas potongan-potongan puzzle abjad dan angka miliknya, lalu saya minta ia memasukkan potongan-potongan itu ke plastik, per warna; satu plastik untuk warna pink, satu untuk kuning, satu hijau, satu biru, dan satu lagi ungu.
Scene 3:
Adiknya menangis, lalu, inilah yang dia ucapkan sambil mengusap kepala si adik, "Adik, jangan nangis, Dik, ada Kakak nih" saya tersenyum mendengarnya.
Scene 4:
(Saya sedang di atas, lalu saya dengar suara dari bawah), "Ibu Ika, Ibu Ika, tuyun, nati kakoh" ternyata Kakak.
Kakak: "Ibu Ika, Ibu Ika, nyanyi, lupa, lupa."
(Ya ampuuun, dia minta saya menyanyikan lagu kuburan untuknya, bukan lagu bintang kecil atau topi saya bundar. Gubrak!)
Scene 6:
Saya dan suami menuju pintu, siap berangkat kerja, belum terucap pamit saya untuk anak-anak, lalu terdengarlah suara si kakak.
Kakak: "Ibu mau enggih? Keja? Iyah?"
Saya: "Iya, Ibu kerja dulu ya."
Kakak: "Cama Ayah?"
Saya: "Iya, sama Ayah. Kakak di rumah sama Adik ya, jaga Adik, main sama Adik, yah?"
Kakak: "Iyah (sambil mengangguk)."
Saya: "Salim dong (salim), sun, sun (satu kecupan darinya di pipi kanan, satu kecupan di pipi kiri, satu kecupan di bibir, kening bertemu kening, hidung bertemu hidung), peluk (saya peluk dia sambil mengatakan, I love you)."
Kakak: "A cu cu (haha...saya tertawa mendengarnya, maksudnya I love you)."
Thursday, October 21, 2010
Duapuluhsatu Oktober Duaribusepuluh
Tadi pagi, setelah saya kecup keningnya, saya ucapkan selamat ulang tahun padanya, "Kakak, selamat ulang tahun ya. Hari ini kakak dua tahun lho, udah besar. Kakak jadi anak yang baik ya, sholehah, anak yang cerdas, jaga adik ya...yang rukun. Kakak calon pemimpin. Ya...? Selamat ulang tahun, I love you (saya ucapkan I love you sambil memeluknya)."
Lalu kami berangkat meninggalkan mereka, Raisha dan adiknya, Raihana Mumtaza Najma Diaz (Oshin).






















