Showing posts with label Education. Show all posts
Showing posts with label Education. Show all posts

Thursday, September 19, 2013

Koreksi Bahasa dari Orang Asing, Seharusnya Kita Malu

Kemarin saya bertemu (meeting) dengan beberapa orang dari sebuah agensi periklanan. Kami membicarakan rencana peluncuran program baru dari perusahaan tempat saya bekerja. Peserta meeting kali ini ada delapan orang, yang terdiri dari tiga kewarganegaraan yaitu Indonesia, Jepang, dan Korea. Selama dua jam meeting tersebut kami menggunakan tiga bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Korea. Lucunya, tidak ada masalah ketika kami menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Korea. Masalah justru muncul ketika diskusi berjalan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Suatu ketika, salah seorang perwakilan agensi tersebut berkata, "Kita yang akan menyiapkan materinya". Seketika itu juga atasan saya yang berkewarganegaraan Korea bertanya, "Kita atau kami?" Lalu perwakilan agensi tadi menjawab, "Kita", sambil menunjuk dirinya dan rekan-rekannya. Saya lihat atasan saya mengernyitkan dahi dan menoleh ke arah saya yang duduk di sebelah kirinya. Saya tahu, itu artinya dia tidak mengerti. "Mereka (sambil menyebutkan nama agensi tersebut) yang akan menyiapkan ini, Pak", kata saya. Atasan saya pun bergumam, "Aaah...maksudnya kami". Saya mengangguk, membenarkan ucapannya.

Beberapa tahun belakangan ini banyak sekali saya dapati penggunaan kata "Kita" yang tidak tepat. Sekadar mengingatkan bahwa "Kami" digunakan ketika lawan bicara tidak termasuk dalam kumpulan orang yang dimaksud, sedangkan "Kita" digunakan ketika lawan bicara termasuk dalam kumpulan orang yang dimaksud. Untuk contoh yang saya ceritakan di paragraf di atas, yang benar adalah, "Kami yang akan menyiapkan materinya", karena yang dimaksud oleh perwakilan agensi tersebut adalah dirinya dan rekan-rekannya. Kami sebagai klien tidak termasuk ke dalam pihak yang akan menyiapkan materi tersebut. 

Atasan saya dan rekan-rekannya adalah orang asing. Mereka mempelajari bahasa kita, mereka pula yang mengoreksi kesalahan kita. Seharusnya kita malu. Kesalahan semacam ini banyak sekali terjadi, tidak hanya di kalangan eksekutif, di kalangan umum, artis, pemerintahan, bahkan media pun sering melakukan kesalahan ini. Menurut saya, sangat mudah untuk kita mempraktikkan penggunaan dua kata tersebut dengan benar. Jangan sampai orang-orang asing itu yang menegur kita, mengoreksi penggunaan Bahasa Indonesia kita. Malu kan?

Semoga bermanfaat.

Saturday, January 19, 2013

Tips Ringan untuk Calon Pemimpin



Ada beberapa macam tipe pemimpin dan ga akan saya bahas satu per satu di sini. Dari kacamata seorang observer, saya hanya ingin berbagi. Mudah-mudahan bermanfaat.

Sebagai pemimpin, hal pertama yang harus kamu tahu adalah tentang tanggung jawab, tugas, dan peranmu. Kamu harus menguasai apa yang seharusnya menjadi “Wilayah Kekuasanmu.” Hanya dengan menguasai itu kamu bakal punya kendali yang bagus untuk memimpin timmu. Tidak masalah kalau kamu memang sudah menguasai, tapi kalau belum? Kamu masih bisa belajar koq, belajar dengan cepat!

Kedua, buat peta kompetensi kamu dan timmu. Gimana caranya? Kamu bisa breakdown apa saja yang menjadi kekuatanmu dan kelemahanmu. Lakukan juga hal ini buat masing-masing anggota timmu. Setelah itu semua terpetakan, kamu bisa berdayakan timmu dengan kekuatan atau keahlian mereka masing-masing, sekaligus meningkatkan keahlian mereka di area yang mereka kurang kuasai. Kalau kamu lagi kumpul-kumpul bareng timmu, kamu bisa pakai permainan kecil “Johari Window” untuk memudahkan masing-masing dari kalian berbagi.

Ketiga, sehebat-hebatnya kamu di satu bidang, ingat, kamu tidak sendirian. Kamu punya anak buah yang harus diperhatikan juga. Sesekali kamu bisa ngobrol tentang keseharian mereka, hobi mereka, atau topik ringan apapun di luar tugas/ pekerjaan. Hal kecil tapi efeknya besar. Mereka akan merasa dekat denganmu, terbuka, dan percaya. Timmu bisa besar juga karena keberadaan mereka bukan? Kalau ga ada mereka, yang ada cuma kamu, seorang diri.

Keempat, transfer pengetahuan dan keahlian. Salah satu indikator pemimpin yang hebat menurut saya adalah mereka yang bisa mengembangkan anak-anak buahnya. Cara terdekat yang bisa memupuk dan mengembangkan timmu/ anak-anak buahmu adalah dengan berbagi pengetahuan dan keahlian dengan mereka. Jangan simpan kepandaianmu sendiri. Kamu ga akan rugi berbagi ilmu ke mereka. Seperti bola yang dilemparkan ke dinding, efeknya akan memantul/ balik lagi ke kamu. Setuju?

Kelima, pernah dengar istilah “Tacit Knowledge”? Ya, ada hal-hal yang bisa kita jelaskan dengan mudah secara verbal dan ada juga yang tidak. Tacit knowledge adalah suatu pengatahuan yang sulit kita jelaskan secara verbal yang mungkin kita juga tidak menyadari bagaimana kita memperoleh pengetahuan itu, tapi kenyataannya kita memiliki itu. Sebaiknya, kamu transfer juga tacit knowledge yang kamu miliki itu ke timmu. Cara efektif untuk mentransfernya adalah dengan interaksi yang intensif dan adanya kepercayaan di antara kamu dan anggota timmu itu.

Well, masih ada beberapa hal lagi sebenarnya, tapi saya ga bisa share sekarang dan insya Allah akan saya share di postingan berikutnya.




Tuesday, January 8, 2013

Qualitatif atau Quantitatif?

Mana yang lebih kamu suka, bekerja dengan powerpoint atau excel?
Pada suatu objek pengamatan, mana yang lebih dulu kamu perhatikan, keseluruhan gambaran suatu ide/ konsep atau jumlah total ide/ konsep tersebut?
Kata tanya apa yang lebih sering kamu tanyakan, mengapa atau berapa kali?
Apa yang lebih menarik perhatianmu, kata-kata atau angka?
Bagaimana caramu menyampaikan sesuatu, diplomasi atau langsung?
Coba jawab, kamu lebih suka mendefinisikan sesuatu atau menguji sesuatu?
Dalam bekerja, kamu pakai cara yang berbeda-beda atau itu-itu saja?
Kualitas atau kuantitas?


Monday, May 21, 2012

Main Cita-Cita

Kakak selalu senang main "Cita-Cita." Awalnya, saya sebutkan satu per satu profesi ke anak-anak di sela-sela waktu main mereka. "Siapa yang mau jadi astronot? Siapa yang mau jadi dokter? Siapa yang mau jadi penulis? Siapa yang mau jadi pelukis? Siapa yang mau jadi pemusik?" Setiap pertanyaan yang saya ajukan, Kakak selalu menjawab, "Saya!" Lain halnya dengan adik, dia cuma senyam senyum. "Siapa yang mau jadi puteri?" "Adik...!!!" Hahaha dengan suara lantang dan lompat-lompat dia mengacungkan tangan kanannya ke atas.

Adik dan Kakak emang beda. Bukan cuma beda jenis rambut dan bentuk mata, tapi juga karakter. Mengagumkan rasanya liat mereka tumbuh dan berkembang. Subhanallah, Alhamdulillah. Anak-anak memang mengubah dunia dan cara pandang kita terhadap dunia.

Kalau ditanya tentang cita-cita, kakak memang dengan pasti menjawab, "Kakak mau jadi astronot. Astronot kan nanti terbang ke bulan ya, Bu? Terbang ke planet juga kan ya, Bu?" Kalau Adik, "Adik mau jadi puteri" Dengan senyum manis dan suara lembut dia menyatakan cita-citanya. Dia tahu puteri itu pakai baju bagus dan menari. Dia pengen seperti itu :)

Tentang permainan Cita-Cita tadi, selain harus punya banyak perbendaharaan tentang berbagai profesi dan jenis pekerjaan, saya juga harus menyelipkan sedikit penjelasan ke anak-anak tentang apa maksud dari profesi/ jenis pekerjaan tersebut. Saya juga masukkan beberapa pekerjaan yang jarang disebut oleh orang-orang dewasa ketika memperkenalkan cita-cita ke anak-anak mereka, misalnya, ahli gizi dan pustakawan. Saya pikir adalah kesalahan kita orang dewasa yang hanya memperkenalkan dokter sebagai cita-cita. Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, sampai saat ini dokter memang masih menjadi profesi yang bergengsi di kalangan masyarakat kita, sementara masih sedikit anak yang ingin menjadi pengusaha. Betul nggak?

Kita sebagai orang dewasa, yang tentunya udah lebih banyak ngerti tentang dunia, wajib membuka mata, hati, dan telinga anak-anak kita dengan berbagai pengetahuan demi kebaikan mereka, termasuk pengetahuan tentang jenis-jenis pekerjaan/ berbagai profesi yang ada. Tentu saja dengan cara yang menyenangkan.

Terakhir, siapa yang mau jadi blogger? ^_^

Sunday, July 31, 2011

Dari Batas Hidup dan Mati Seorang Anak

"Bawa, bawa, bawa...." suara itu mengejutkan saya yang lagi ada di dalam rumah. Suara jeritan histeris seorang wanita yang entah kenapa terdengar begitu memilukan. Saya langsung ke luar, menuju arah suara tersebut. Saat itu, saya lihat suami saya yang sedang berada di halaman depan rumah juga berlari ke arah suara tadi. Yang kami lihat berikutnya sungguh mengerikan...seorang anak sedang berada di antara batas hidup dan mati.

"Bawa atuh...bawa....ka dokter," suara yang tadi kami dengar histeris sekarang melemah, memelas, tipis harapan. Wanita ini, kami yakin adalah ibu dari anak yang sedang berada di garis batas kehidupan tadi. Bajunya basah, sama basahnya seperti anak yang sedang digendong seorang laki-laki yang berusaha menolongnya. Dua, tiga kali laki-laki itu menghembuskan napas bantuan, anak itu bergeming, tetap terkulai lemas dengan seluruh kulit membiru dan mulutnya berbusa.

Dari yang kami dengar, anak ini jatuh ke kolam ikan di halaman belakang rumahnya. Ibunya sedang memasak ketika ia bermain-main di dekat kolam itu. Selanjutnya, bagaimana kecelakaan itu terjadi kami tidak tahu. Yang pasti, kejadian siang kemarin membuat kami sadar akan beberapa hal. Bukan hanya syukur nikmat atas karunia anak yang telah Allah berikan kepada kami, tapi ini juga merupakan peringatan kepada kami sebagai orangtua untuk lebih berhati-hati.

Di atas sepeda motor yang sudah siap melaju menembus jalan raya Cicurug, Sukabumi, anak itu digendong oleh seorang laki-laki yang mencoba menolongnya, menyambungkan tali kehidupan yang hampir putus. Sebelumnya, anak tersebut dibalikkan tubuhnya, kami yakin, ia berusaha mengeluarkan air yang tampaknya cukup banyak tertelan oleh si anak. Setelah dibalikkan, tubuh anak itu dimiringkan dan dua tau tiga orang bergantian memberi pertolongan pertama lewat napas buatan.

Si ibu masih menangis pilu, ia terus saja berkata, "Bawa, bawa atuh....buru bawa ka dokter." Sesekali ia menjerit histeris sambil menarik-narik rambutnya. Berputar-putar, maju, mundur, sambil terus menangis meraung-raung. Saya ingin sekali memeluknya. Sementara itu, suami saya beberapa kali maju dan mundur menghampiri anak itu. Ada yang kurang tepat memang pada pertolongan itu, saya tahu suami saya ingin menarik anak itu, membaringkannya, lalu menekan dadanya, dan memberi napas bantuan, tapi ia ragu.

Situasi dan kondisi panik yang ada kala itu membuat kami urung membantu. Mendengar jerit tangis si ibu yang terus menerus memohon agar anaknya segera dibawa ke dokter, kami yakin akan pemikiran ibu itu bahwa ia menginginkan anaknya segera dibawa ke tempat pertolongan yang pasti. Di sisi lain, orang-orang di sekitarnya justru ingin memberi pertolongan pertama terlebih dahulu sebelum dibawa ke dokter.

Anak itu masih membiru dan terkulai lemas dalam gendongan. Kami lihat bola mata anak itu masih di bawah, masih ada harapan, ucap kami. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya anak tersebut menunjukkan reaksi dan setelah itu barulah ia dibawa ke dokter. Kami hanya bisa berdoa semoga ia selamat.

Sebelumnya, ketika si ibu masih saja menjerit-jerit menangis, seorang ibu lain berkata kepadanya, "Kumaha sih, Neng?....keur naon emang tadi? naha atuh ninggalkeun budak sorangan kitu? aduh, Neng....Neng..." Ah tidak, dalam kondisi seperti itu masih saja si ibu disalahkan. Kasihan. "Mana ada sih orangtua yang pengen anaknya celaka?" gerutu saya dalam hati. "Udahlah.....biar ini jadi pelajaran buat kami semua. Kalau emang mau nanya, nanti ketika keadaan sudah tenang dan harus baik-baik nanyanya," saya geregetan sama ibu yang nyalahin tadi.

Anak itu akhirnya dibawa ke dokter, kami kembali ke dalam rumah. Kemarin memang kami berdua mengunjungi nenek di Sukabumi, tanpa anak-anak. Saya yakin, pikiran kami masing-masing langsung tertuju ke anak-anak kami. Beberapa detik kemudian saya sudah terhubung dengan telepon rumah, ada si Mbak pengasuh yang mengangkat telepon, dari kejauhan saya dengar suara anak-anak berteriak, "Ibu....Ibu....kakak mau ngomong sama Ibu..." Hati saya berdesir ingin menangis. Kejadian hari itu memberi pelajaran berharga buat semua yang menyaksikan, khususnya bagi kami berdua.
***

Setelah melihat kejadian kemarin, saya dan suami saya sedikit berbincang-bincang. Tentang betapa minimnya pengetahuan masyarakat kita akan pertolongan pertama pada kecelakaan. Entah ini salah siapa? Pemerintah kah atau justru masyarakat kita sendiri yang kurang aktif mencari tahu informasi-informasi tersebut. Untuk beberapa kalangan seperti ibu-ibu rumah tangga yang saya ceritakan di atas, saya maklum. Nah tapi, harusnya pemerintah memikirkan gimana caranya mensosialisasikan cara2 P3K ini kepada ibu-ibu rumah tangga. Kenapa? Ya karena yang ada di rumah dan mendampingi anak-anak adalah kaum ibu toh? Saya tidak tahu, apa posyandu atau puskesmas udah optimal fungsinya. Saya pikir, keduanya harusnya ga cuma sebagai lembaga yang menyediakan layanan kesehatan sebagai bentuk kuratif, tapi lebih jauh dari itu seharusnya keduanya juga memberi pengetahuan-pengetahuan preventif. saya pikir banyak kecil namun penting bisa disampaikan ke masyarakat. entahlah...

terakhir, terkait dengan cerita di atas, saya ingin berbagi sedikit informasi tentang CPR, silakan klik link ini.


Gambar di bawah ini saya ambil dari Google.



Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat.

Thursday, July 21, 2011

Training yang Menyenangkan!

Alhamdulillah, sesi training kemarin berjalan dengan lancar. Dunia training memang bukan hal baru buat saya. Waktu kuliah dulu, di salah satu mata kuliah, meskipun secara singkat saya mempelajari hal itu. Terus, pekerjaan pertama saya adalah menjadi bagian dari konsultan manajemen yang notabene banyak ngadain training. Sekarang, salah satu kerjaan saya di kantor pun ga jauh-jauh dari urusan training. Ini catatan mengenai training yang kemarin saya (dan tim saya) berikan untuk mitra kami.

Training diawali dengan sebuah perkenalan kecil. Peserta diminta menyebutkan nama dan sesuatu yang khas dari dirinya. Saya beri contoh, saya adalah Rifka Beng Beng karena saya suka sekali Beng Beng. Setelah itu barulah para peserta secara bergantian memperkenalkan dirinya dengan cara tersebut. Mereka lalu menyebutkan satu atau dua kata di belakang nama mereka, yang khas dari mereka. Di luar dugaan, cara ini benar-benar mencairkan suasana dan lebih jauh, kami dapat mengetahui hal lain dari diri peserta.

Berikutnya, peserta kami bagi menjadi dua kelompok (kelompok A dan kelompok B) dan kami berikan satu lembar kertas A3 dan beberapa buah crayon. Masing-masing kelompok saya minta untuk membuat gambar dengan instruksi tertentu. Kepada masing-masing anggota kelompok A, kami minta untuk memikirkan satu buah objek untuk digambar. Kepada kelompok B saya minta mereka mendiskusikan sebuah objek untuk digambar. Cara menggambarnya adalah bergantian. Jadi, setelah waktu untuk memikirkan gambar bagi kelompok A dan waktu untuk mendiskusikan gambar untuk kelompok B selesai, saya minta orang pertama dari masing-masing kelompok untuk mulai menggambar dalam waktu tertentu. Setelah waktu habis, gantian, giliran peserta lain untuk menggambar.

Hasilnya tentu beda untuk kedua kelompok ini. Dari hasil gambar tersebut, saya minta mereka untuk menyampaikan kesan mengenai kedua gambar tersebut. Apa saja yang ada di kepala mereka, saya persilakan untuk diungkapkan. Kemudian, saya gali pendapat mereka tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan dan saya arahkan sesi diskusi gambar ini ke arah peran masing-masing anggota kelompok. Semua pernyataan berujung ke satu muara, yaitu peran inti mereka.

Berikutnya kami masuk ke materi lain yaitu tentang pentingnya arti sebuah senyuman, penghargaan, dan motivasi. Kalau tadi di awal kami menyampaikan materi melalui gambar, kali ini kami menampilkan potongan sebuah video. Video ini menceritakan seorang petugas validasi karcis parkir yang luar biasa. Setiap orang yang datang kepadanya selalu diberinya senyuman dan pujian yang objektif. Ia selalu bisa melihat hal positif dari orang yang ditemuinya. Efeknya, bukan saja orang-orang menjadi senang karena dipuji, tetapi juga ia jadi memiliki antrian yang sangat panjang. Antrian untuk mendapatkan cap validasi sekaligus senyum dan pujian gratis. Sebaliknya, ketika ia berhenti melakukan itu, orang-orang pun kembali sedih, lesu, tidak termotivasi, dan pergi meninggalkannya.

Sama seperti sesi gambar, para peserta saya minta untuk mengungkapkan apa saja yang terlintas di pikiran mereka. Satu persatu para peserta berbicara dan akhirnya tersampaikanlah pesan yang kami maksud. Bukan dari kami, tapi dari mereka sendiri. Jadi, melalui potongan video ini mereka dapat menyadari betapa pentingnya sebuah senyuman dan pujian.

Materi berikutnya kami sampaikan dengan cara roleplay. Kami menciptakan suatu situasi dan kondisi tertentu untuk roleplay ini, lalu kami minta para peserta untuk meresponnya dengan cara masing-masing. Ketika peserta menunjukkan hal yang benar, kami biarkan ia menyelesaikan apa yang dilakukannya. Ketika peserta melakukan hal yang salah, kami tunjukkan cara kami, cara yang seharusnya. Setelah roleplay selesai, kembali, sesi diskusi merupakan sarana paling tepat untuk menggali perasaan dan pemikiran mereka tentang apa yang baru saja mereka saksikan dan mereka lakukan.

Sudah tiga materi kami sampaikan. Sesi akhir adalah sesi mini quiz. Kami meminta peserta mengisi selembar kertas yang isinya adalah beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi-materi yang sudah mereka terima. Ini penting, untuk mengetahui sejauh mana penyerapan mereka akan materi yang sudah kami sampaikan. Mini quiz ini ditutup dengan pembahasan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan juga pemberian hadiah bagi tiga peserta dengan nilai tertinggi.

Sebelum ditutup, kami minta salah seorang peserta mengulas lagi secara singkat apa saja yang sudah dilakukan dan dipelajari dari pagi hingga siang kemarin, sepanjang sesi training. Dengan begitu, saya yang hari itu kebagian tugas sebagai fasilitator, tidak perlu merangkum hasil training hari itu. Semua materi disampaikan dengan simulasi, tanpa slide sama sekali. Yup, sebab konsep training kami hari itu adalah learning is fun. Terakhir, kami berikan kenang-kenangan untuk dua peserta aktif, sebagai bentuk penghargaan kami kepada mereka.

Nah, tidak selamanya training itu membosankan kan? Karena belajar itu haruslah menyenangkan!

Sunday, July 10, 2011

Stop Penggunaan Kata Autis Sebagai Olok-Olokan

Saya pikir saya harus menuliskan ini; tentang arti sebuah kata, autis. Berawal dari seringnya saya mendengar orang-orang menyebut kata autis sebagai satu candaan atau bahan olok-olokan di antara kita. Entah itu dalam percakapan sehari-hari atau dalam komentar-komentar di dunia maya. Saya jadi gerah dibuatnya.

Saya yakin, kata autis yang digunakan sebagai bahan candaan itu berasal dari kata autisme. Lalu, apa arti kata autisme itu sendiri? Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitif, aktivitas, dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993).

Jadi, autisme bukanlah penyakit, melainkan suatu kondisi. Bukan penyakit, melainkan suatu gangguan perkembangan yang terjadi pada seorang individu. Saya tidak akan membahas autisme secara detil dan ilmiah. Melalui tulisan ini, saya hanya mengimbau teman-teman untuk tidak lagi menggunakan kata autis sebagai bahan olok-olokan. Stop!

Secara umum, orang-orang memandang penderita autis adalah orang yang sibuk dengan dunianya sendiri, tidak bisa bersosialisasi, tidak bisa berkomunikasi dengan lingkungannya. Ya, sebagian pandangan itu benar. Akan tetapi, pernahkah terpikir oleh teman-teman bahwa mereka tidak pernah mau dilahirkan dengan kondisi seperti itu? Suatu kondisi yang kita anggap beda dengan kebanyakan kita. Suatu kondisi yang pelik dan terkadang sulit dipahami oleh sebagian besar kita juga.

Pernahkah teman-teman memposisikan diri sebagai orangtua anak dengan autisme? Tahukah teman-teman perasaan mereka? Sekali-kali teman-teman tempatkanlah diri teman-teman di posisi mereka. Sekali saja, resapi. Saya yakin, setelah itu teman-teman tidak akan menggunakan lagi kata autis sebagai bahan candaan atau olok-olokan.

Sedikit saja saya ulas, bahwa autisme sendiri masih menjadi perbincangan di kalangan ilmu-ilmu terkait. Berbagai teori tentang penyebab dan pengobatan (terapi) masih sering diperbincangkan. Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya gangguan dalam enam bidang yaitu:
1. interaksi sosial
2. komunikasi (bahasa dan bicara)
3. perilaku-emosi
4.pola bermain
5.gangguan sensorik-motorik, dan
6.terlambatnya perkembangan.

Kita tahu, kebanyakan anak-anak dengan autisme menyukai suatu pola repetitif tertentu. Misalnya, duduk sambil memajukan dan memundurkan badannya berulang-ulang, tiada henti memutar-mutar jarinya di dalam gelas, atau perilaku berulang lainnya. Selain itu, mereka kadang terikat pada suatu perilaku obsesif. Misalnya, suka sekali mengurutkan mainannya menjadi suatu barisan, menempatkan segala sesuatunya pada tempat-tempat tertentu dan tidak boleh berubah, atau dalam kegiatan makan memiliki pola urutan tertentu yang tidak boleh diganggu. Apabila dua bentuk perilaku tersebut (repetitif dan obsesif) terganggu, bisa jadi anak-anak ini marah dan tidak terkendali emosinya. Selain itu, kesulitan berkomunikasi yang mereka alami menyebabkan mereka seperti terisolasi dalam dunianya sendiri.

Orangtua mana yang tidak sedih melihat kondisi anaknya seperti itu? Jadi, alih-alih membuat hal ini semakin buruk, lebih baik kita sama-sama sosialisaikan hal ini; stop penggunaan kata autis sebagai bahan olok-olokan. Saya dengan jaringan saya, teman-teman dengan jaringan teman-teman. Jika satu orang menyebarkan hal ini ke sekian banyak orang lain, semoga semakin banyak orang yang menghentikan kebiasaan buruk ini. Dengan demikian, kita telah berempati kepada sesama. Kita telah berbuat baik kepada mereka.

Lalu, kenapa tidak kita mulai dari sekarang?


Friday, July 1, 2011

Nothing's Wrong....

"Teteh..."

Suara lemah diiringi sesenggukan di seberang sana memecahkan kesunyian di kamar tidur saya beberapa hari yang lalu. Siang itu saya baru saja menemani anak-anak saya tidur siang. Ketika baru saja saya ingin terlelap juga, terdengarlah getaran ponsel yang berada tidak jauh dari tempat saya berbaring. Saya angkat dan jawab panggilan tersebut, lalu inilah yang berikutnya saya dengar.

"Aku dimaki-maki di depan orang banyak, Teh. Aku dibilang bego karena ga tau bersopan santun. Aku dibilang berubah, dibilang introvert. Terakhir, aku disuruh ke Prof. Kania (bukan nama sebenarnya), Teh. Aku disuruh periksa dan konsultasi ke beliau."

Seorang teman lama yang sekarang sedang mengambil spesialis di salah satu universitas di Yogyakarta. Baru saja ia memasuki semester dua, namun nampaknya ia mengalami stres yang luar biasa. Saya dengarkan masalahnya. Lama juga ia berbicara, sebagian besar keluh kesah, sebagian lain pertanyaan-pertanyaan yang tentu ia sangat ingin tahu jawabannya.

Dalam pandangan saya, permasalahan yang dia hadapi sebenarnya adalah bukan masalah kuliahnya, tapi pergaulannya. Kalau meminjam istilah yang lebih ilmiah, saya sebut itu sosialisasi. Sekarang coba teman-teman cermati kalimat yang teman saya ucapkan di atas, "Aku dimaki-maki di depan orang banyak, Teh. Aku dibilang bego karena ga tau bersopan santun. Aku dibilang berubah, dibilang introvert. Terakhir, aku disuruh ke Prof. Kania, Teh. Aku disuruh periksa dan konsultasi ke beliau."

Kalau teman-teman sadari, kalimat itu muncul bukan karena teman saya tidak bisa mengikuti kuliahnya kan? Tapi lebih karena masalahnya dengan lingkungan. Disadari atau tidak, kadang kala hal-hal yang menghambat keberhasilan kita adalah hal-hal di luar hal utama. Untuk contoh teman saya ini, yang menghambat kelancaran kuliahnya adalah bukan karena ia tidak bisa mengikuti mata kuliah-mata kuliah di kampusnya, tetapi lebih kepada hal hubungan dengan orang lain.

Apa pentingnya orang lain bagi diri teman saya ini? Tentu sangat penting. Sebagai seorang dokter dan calon dokter spesialis, orang-orang sangat penting bagi dirinya. Nanti, ia akan bertemu dengan banyak orang. Pasien, keluarga pasien, dokter-dokter senior, dan masih banyak lagi orang yang akan ia temui. Orang-orang itu tentu punya karakter yang berbeda-beda bukan? Di sinilah pentingnya kemampuan interpersonal seorang dokter (dalam kasus ini khusus saya bahas tentang dokter). Lalu, apa sih kemampuan interpersonal itu? Kemampuan interpersonal adalah kemampuan seseorang menjalin hubungan dengan orang lain.

Tentang dirinya yang dikatakan introvert oleh seniornya. Saya tanya teman saya itu, "What's wrong for being introvert?" Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan orang yang introvert. Sama halnya tidak ada yang salah dengan orang yang ekstrovert. Hanya saja, setelah saya gali lebih jauh mengapa seniornya mengatakan dia introvert seolah-olah bahwa introvert itu tidak baik, ternyata satu, kemungkinan besar seniornya tidak ingin ia terlalu kaku dalam menangani pasien. Terlalu terpaku pada penyakitnya tanpa peduli dengan orang di sekitar pasien itu, misalnya keluarganya. Benar toh, pasti keluarga akan butuh penjelasan dari sang dokter. Jika dokter bersikap terbuka, tentu pihak keluarga pun akan lebih merasa tenang dan senang. Jadi, sekali lagi, bukan introvert atau ekstrovert yang salah, tapi maksud sang senior adalah pandai-pandailah berlaku kepada orang lain.

Kemudian tentang rujukan untuk ke Prof. Kania. Prof. Kania adalah dosen saya. Dosen senior di kampus saya, menangani permasalahan-permasalahan klinis. Kalau teman-teman tahu, psikologi memang dibagi-bagi menjadi beberapa sub disiplin ilmu, salah satunya adalah psikologi klinis. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah, tidak usah takut datang ke psikolog. Psikolog juga manusia =p

Hmm...begini, 10-15 tahun lalu profesi psikolog memang dianggap sempit ruang lingkupnya. Profesi ini belum populer di kalangan masyarakat Indonesia kala itu. Orang-orang yang datang ke psikolog akan dicap sebagai orang gila. Oh tidak...tidak...sebenarnya bukan itu. Orang-orang yang datang ke psikolog tidak semuanya gila. Teman-teman pun tidak akan menjadi gila karena datang ke psikolog.

Sederhananya, psikolog adalah orang yang mempelajari ilmu perilaku secara mendalam. Untuk mendukung kemampuannya menganalisa perilaku orang-orang, para psikolog menggunakan alat-alat tes psikologi. Sama seperti dokter, alat-alat tes ini membantu psikolog mendapatkan data-data valid yang diperlukan. Jadi, apa yang diucapkan para psikolog sebenarnya ada landasan keilmuannya, bukan semata-mata hasil penerawangan.

Kembali ke persoalan teman saya tadi. Ia dirujuk ke psikolog bukan karena ia 'sakit.' Menurut saya, ia hanya perlu bicara dengan orang yang lebih mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya, pada situasi dan kondisi yang melingkupinya saat ini. "Prof. Kania sebagai psikolog pasti akan membantumu menemukan masalahmu. Jadi, ikuti saja sarannya. Percaya deh!" Saya katakan seperti itu kepadanya.

Saya katakan, ia tidak sendiri. Bukan ia satu-satunya orang yang mengalami hal ini (diperlakukan seperti apa yang saya ceritakan di atas). Saya katakan padanya, "Mungkin saja ini cara seniormu menggembleng kamu. Supaya kamu lebih kuat. Sebab, yang akan kamu hadapi nanti bukan hanya satu dua kasus. Yang akan kamu temui bukan hanya satu dua orang. Banyak. Banyak yang akan kamu temui. Kalau karena kerikil kecil saja kamu udah nyerah, kamu ga akan bisa surive. Bukan karena kamu tidak pintar, tapi karena hal-hal seperti ini. Sayang kan? Kamu pasti bisa melalui ini semua."

Ya. Secara umum, senioritas masih banyak berlaku di sistem pendidikan kita. Salah satunya di lingkup pendidikan dokter spesialis ini. Saya tidak tahu bagaimana sistem pendidikan di profesi teman-teman. Apakah sama? Atau berbeda? Yang jelas, dari keseluruhan pembahasan ini, saya ingin menyampaikan dua hal yaitu:
- berpikir positif
- kembangkan kemampuan interpersonal.

Kalau ada nilai lain yang bisa teman-teman tangkap dari ulasan saya ini, alhamdulillah.

Wallahu a'lam.






Sunday, May 22, 2011

Semua Tak Sama

Beberapa waktu lalu, kami (saya dan teman-teman kantor) mengikuti sebuah training tiga hari. Di training itu kami, dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari maksimal delapan orang. Di kelompok saya, kebetulan sayalah yang jadi PICnya. Di dalam kelompok saya ada tujuh orang dari beberapa bagian. Tenang, saya tidak akan mendeskripsikan tentang isi training tersebut. Hanya akan berbagi secuil kisah yang terjadi selepas hari kedua training ini dilaksanakan.

Hari kedua itu training selesai pukul lima sore. Dari ruang seminar tempat training tersebut dilaksanakan, saya kembali ke meja saya. Lalu datanglah seorang teman saya. Dia bercerita tentang seorang teman yang menjadi bagian dari kelompok saya. Katanya, dia tidak betah ada di kelompok saya. Sebabnya? Ia merasa apa yang saya lakukan di dalam kelompok membuatnya merasa bodoh. Apa? Oh tidak! Saya benar-benar terkejut mendengarnya. Padahal, saya sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Maksud saya baik, sebagai PIC kelompok ini, saya ingin membagi rata tugas-tugas yang diberikan kepada kami. Selain itu, saya juga memberi motivasi kepada teman-teman satu kelompok saya untuk perform. Hohoho...tapi ternyata dia tidak suka cara saya. Benar-benar tidak suka.

Selain itu, perlakuan dua teman saya yang lain terhadapnya juga tidak bisa ditoleransi olehnya. Hah? Sampai demikian parahnya kah? Oow...tidak....tidak....saya sayal lagi, tidak mengontrol member saya dengan baik. Parahnya, karena dua hal ini yaitu perlakuan saya dan perlakuan dua member saya ini dia berniat untuk mengadukannya ke atasan saya. Hebat!!!! Hebat bener kamu, Rif! Bisa membuat orang sampai kalut begitu. Dia berniat mengajukan permohonan untuk pindah kelompok. Gubrak dech!

Well....wel...selalu ada yang bisa dipelajari dari setiap kejadian. Dari kejadian ini, saya sadar bahwa tidak semua orang suka kita, tidak semua orang suka gaya kepemimpinan kita. Tidak semua orang nyaman berada di dekat kita. Tidak semua orang punya persepsi yang sama dengan kita. Tidak semua orang punya perasaan yang sama dengan kita. Sayangnya ketika itu saya tidak merefleksikan ini di dalam kelompok. Sehingga terjadilah ini semua.

Hmm...tapi itu sudah lewat. Moga di lain waktu saya bisa lebih baik. Amiin.