Thursday, August 11, 2011

Kopdar Bubar yuks?!

Setelah sore dua hari yang lalu saya ngomel2, sore kemarin alhamdulillah saya ketawa2. Gimana nggak, ngobrol bareng Raja dan Adi Chimenk memang selalu menyenangkan. Ada aja hal yang bisa bikin ketawa, emang dasar pelawak yah? ups...

Terinspirasi dari baca komen2 di postingannya Aulia yang ini, kemarin sore akhirnya saya ajak Raja dan Chimenk conference untuk ngobrolin rencana buka puasa bareng.

Ngobrol, ngobrol, ngobrol, akhirnya ketemulah hari, tanggal, dan tempat. Yup, kami merencanakan kopi darat dengan agenda utama buka puasa bareng hari Senen tanggal 15 Agustus 2011 di Pejaten Village, Jakarta.

Kepikiran untuk ngehubungin beberapa blogger yang ada di Jakarta, tapi berhubung kami ga punya semua kontak blogger2 itu, ya udin, saya posting aja wacana buka puasa bareng ini.

So, buat blogger Jakarta, juga buat blogger luar kota Jakarta yang ada rencana ke Jakarta, atau yang hari itu pas ada di Jakarta (ribet yak?), lewat postingan ini kami undang teman2 untuk ketemuan ya senen depan di Pejaten Village buat buka puasa bareng. Feels free to contact me.... bisa lewat facebook atau email ke rifka.nida@gmail.com.

See you around, friends ^_^

Wednesday, August 10, 2011

Omelan di Sore Hari

Sore yang emosional. Gagal deh dapat nilai puasa optimal. Gimana mau optimal, la wong sore2 saya ngomel2 ;( Ini percakapan antara saya (S) dengan seorang teman dekat (T) melalui telepon.

S: eh, lo tuh ya, maksut lo apaan sih ngomong kayak gitu? Ada yang nyalain kompor bukannya lo matiin apinya, malah lo gedein. kecewa gue sama lo.
T: eh, kenape sih, lo, Rif?
S: kenape? lo tanya kenape? email lo tuh!
T: ah elo, gitu aje pake perasaan. semuanye pake perasaan. ga asik lo!
S: emang kenape kalo pake perasaan? lo aja yang kebo, kagak punya perasaan! dasar kebo!
T: sembarangan, emang kebo ga punya perasaan? punya tau!
S: terus siapa yang ga punya perasaan?
T: Ayam
S: ya udah, dasar ayam lo!
T: udah lah, ga usah diperpanjang, masalah kayak gitu ajah. sayang puasa lo kalo marah2 gitu.
S: denger ya, gue ga marah2! gue cuma mengekspresikan kekesalah gue sama lo berdua, ngerti?!
T: tapi emang bener kan yang gue omongin?
S: bukan masalah omongan lo, tapi cara lo berdua! ga pantes tau kalian ngomong kayak gitu di depan orang banyak!
T: apa bedanya sama gue ngomong di depan orang dikit?
S: ya beda!
T: embe jeung kuda?
S: tolong ya, gue lagi serius!!! pokoknya beda!!!!
T: trus gue musti gimana?
S: kalo emang lo ga suka dengan cara gue, lo ngomong aja langsung ke gue! ga kayak gitu caranya. Temen lo juga tuh, sama aja.
T: ya udah, buat pelajaran lo, Rif.
S: eh, enak aja gue doang, lo juga musti belajar, temen lo juga! percuma dong kalo gue sendiri yang belajar.
T: ya ga percuma, kan lo jadi pintar?
S: aduuuuhhhhhhh............tolong ya, gue bilang gue lagi serius!!!
T: oh, gue pikir lo lagi marah2?
S: au ah, sekarang gue musti gimana neh?
T: ya udah, cuekin aja omongan itu, emang dia orangnya begitu. maklum lah, orang sana kan adatnya emang gitu, cara ngomongnya blak-blakan.
S: tuh kan, selalu ada pemakluman. ga bisa gitu, dia harus tau kalau caranya dan cara lo itu ga baik.
T: ya udah ngomong aja.
S: lah kata lo ga usah diperpanjang? ga konsisten deh!
T: kan lo sendiri yang bikin ini panjang?
S: ah udah ah, cape gue tereak2 kayak gini. pokoknya, sekali lagi gue bilangin ya, cara lo yang ini sama sekali ga bagus! ga ngasih contoh yang baik buat semua. makasih.

Akhirnya telepon itu saya tutup.

Sementara itu, beberapa pesan dari intranet masuk ke kotak chat saya.

"Sabar ya, Bu, sabar...." kata si bapak yang bijak.
"Ka, sabar ya, ga usah ditanggepin," kata si ibu itu.
"Mbak Rif, udahlah.... cuekin aja," hmmm....seorang junior nasehatin saya.
"Hahahaha...Mbak, lo kenapa? Kepancing ya? Udah, cuekin," kata junior yang lain.

Huft, sabar....sabar...akhirnya saya bisa mengendalikan kemarahan saya. Alhamdulillah.

Kadang, di mata beberapa orang, apapun yang kita lakukan selalu saja ada salahnya. Selalu saja ada cacatnya, selalu saja ada kurangnya. Beberapa orang itu mungkin tidak melihat ke sisi lain yang juga ada, tapi lebih fokus ke yang kurang-kurang itu. Beberapa orang itu kadang lupa bagaimana pertama kali kita harus berterima kasih dan selanjutnya mengkritik dengan cara yang baik. Beberapa orang itu mungkin saja termasuk saya.

Jadi, apa yang terjadi kemarin sore memang menjadi pelajaran buat saya. Agar lebih hati-hati berpikir, mengambil keputusan, menyampaikannya, dan menanggapi berbagai reaksi yang muncul karenanya.

Wallahu a'lam.

Monday, August 1, 2011

Aku Memilih, Aku Menerima Konsekuensi

Pagi ini, ada satu kejadian yang bikin saya ingat sebuah film. Judul film itu "Nothing but The Truth." Film tahun 2008 yang bercerita tentang perjuangan dan pengorbanan seorang jurnalis wanita mempertahankan prinsipnya yaitu memegang teguh kode etik jurnalistik.

Wanita ini berusaha mati-matian melindungi narasumbernya. Mulai dari mendapat dukungan suami dan rekan kerja, sampai ia harus kehilangan cinta dan keluarganya, semua tergambar di film ini. Menyedihkan. Gambaran konsekuensi yang harus diterima seorang wanita ketika ia mempertahankan idealismenya.

Ada perbedaan nyata jika kita membandingkan ini dengan dunia laki-laki. Ketika seorang laki-laki mempertahankan prinsip dan idealismenya, dengan serta merta dia akan mendapatkan simpati dan pujian publik. Sebaliknya, ketika perempuan mati-matian membela apa yang dipegangteguh olehnya, ia akan kehilangan segala-galanya terutama cinta dan keluarga.

Di sini pergulatan batin seorang wanita terjadi. Apakah ia akan mempertahankan prinsipnya itu demi sebuah kode etik ataukah ia akan mengabaikannya demi sebuah keutuhan keluarga. Setiap pilihan yang dia ambil ada konsekuensinya. Setiap keputusan yang dia buat ada konsekuensinya.

Pada satu titik jika kita menonton film ini, kita akan menyalahkan wanita ini dan mendorongnya untuk menyerah saja. Di sisi lain, kita benar-benar tidak akan pernah mengerti mengapa wanita ini benar-benar menjunjung tinggi idealismenya, janjinya kepada sang narasumber. Kita tidak pernah akan mengerti karena kita tidak pernah benar-benar berada di posisinya.

Film ini menyuguhkan kehidupan apa adanya seorang wanita karir yang juga memiliki rumah tangga. Ketika ia dimasukkan ke dalam penjara, ketika itulah cinta dan dukungan suami diuji. Jujur, ada satu saat ketika saya benar-benar membenci si tokoh pria dalam film ini, yaitu ketika dia mencampakkan isterinya yang sedang terkena masalah hukum. Ekspresi marah yang ditunjukkan jurnalis wanita ini keren banget. Total! Begitu juga ketika ia merasa sangat terpukul karena ditinggalkan oleh anak satu-satunya. Benar-benar menguras emosi.

Bagi saya film ini menyuguhkan satu pesan sederhana; ketika kita memilih untuk menetapkan satu jalan hidup, ketika itu pula kita menetapkan konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan karena pilihan itu. Dan sekali kita melangkah, kita ga akan pernah bisa kembali. Perjuangan membela idealisme itu kadang pahit, tinggal kita yang memutuskan sampai batas mana kita mempertahankan idealisme itu. Terakhir, perang batin itu kadang terjadi dan kita alami sendiri, sekali lagi, apapun keputusan yang kita buat, selalu ada konsekuensinya.

Wallahu a'lam.

*dedicated to a friend.... I will surely miss you...