Saturday, June 11, 2011

...dari Bali...

Acara konferensi di Bali pekan lalu menjadi ajang kopi darat saya bersama Gaphe, si pemilik blog Gaphe Bercerita. Seperti biasa, bertemu dengannya memang selalu menyenangkan. Kami jalan-jalan bareng, makan, belanja oleh-oleh bareng, dan ga lupa, foto-foto.

di Krishna, pusat oleh2

Untuk urusan cerita, Gaphe lebih hebat daripada saya, ceritanya selalu menarik! Silakan simak cerita-ceritanya di blog gaphebercerita.blogspot.com. Kalau saya, saya baru membuat tiga postingan kecil tentang perjalanan ke Bali ini. Satu postingan ini, satu lagi cerita tentang Nasionalisme Tujuh Kurcaci, dan satu lagi tentang eksotisme Nusa Dua dalam puisi Nusa Dua Bersama Ilusi.

Foto di atas adalah foto yang diambil pake kamera poket saya. Makanya hasilnya ga bagus ;p Itu adalah gerbang menuju hotel tempat kami menginap. Malam itu, kami berlima jalan kaki dari hotel menuju Bali Collection. Ada cerita apa di sana? Gaphe pasti akan bercerita. Tunggu aja kisahnya!

melihat Gaphe, apa ya yang ada di pikiran 3 wanita itu

Sekilas saja, karena kami (Gaphe dan saya) di kantor sering mengadakan event kecil maupun besar, kami menjadi terbiasa dengan hal-hal tersebut; mulai dari mempersiapkan hal yang besar sampai ke perintil-perintilannya. Di Bali kemarin, kami kebagian tugas yang berbeda. Gaphe bertugas di meja registrasi dan di kamar dubber dan saya bertugas di information desk dan juga seksi perlengkapan untuk dinner party. Di information desk tersebut saya bertanggung jawab atas sejumlah 591 set receiver dan menyediakan informasi termasuk info barang hilang. Kalau Gaphe, tanggung jawab utama dia adalah sebagai translator; menerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Wuih, keren kan?! So, kalau udah begini, teman2 tau kan kami berbakat di beberapa bidang? Kalau tsuatu saat teman2 butuh MC, moderator, narator, fotografer, properti, atau make up artis., hubungi kami (Gaphe dan saya) aja ya!

Hmm....terakhir, saya belum bilang ya, saya baru aja merilis buku pertama saya; HitamPutih; kumpulan catatan perjalanan. Bukunya tentang apa? Teman-teman boleh klik link ini. Pesan langsung ke saya juga boleh. Kirim saja email ke rifka.nida@gmail.com.


Nah, Kalau butuh orang disain grafis, silakan hubungi Huda Tula, pemilik blog Rumah Review. Cover buku saya yang bikin dia lho....

Makasih sudah berkunjung ya, Teman2.

Nasionalisme Tujuh Kurcaci


Adegan demi adegan masih tergambar jelas di benak saya. Bait demi bait kalimat dialog masih terngiang-ngiang di telinga saya. Percakapan biasa, antara putri salju dan tujuh kurcaci, dalam pencariannya akan pangeran pujaan, di Indonesia.

Itulah sedikit gambaran mengenai operet yang kami suguhkan kepada peserta konferensi di Bali pekan lalu. Peserta adalah asosiasi perusahaan kami dari beberapa negara asia oceania. Dalam operet itu, kami memperkenalkan beberapa kebudayaan Indonesia yang sebagian besar melalui tari-tarian daerah.

Tidak seperti biasanya, tujuh kurcaci yang menemani putri salju malam itu mengenakan pakaian-pakaian adat daerah-daerah di Indonesia. Masing-masing mereka mengenakan pakaian adat Melayu, Jawa, Betawi, Bali, Makassar, Kalimantan, dan Papua. Saya yang kali ini bertindak sebagai kru properti dan make up artis, mengikuti operet ini sejak awal latihan, tergugah rasa nasionalisme saya.

Betapa tidak, meski lahir dan besar di bumi pertiwi, hanya sedikit yang saya tahu tentangnya. Kemarin, para kurcaci itulah yang memperkenalkan kembali keanekaan dan keanggunan bumi kita tercinta ini.

Masing-masing kurcaci ini mengantarkan sang putri ke tujuh daerah di Indonesia. Secara tidak langsung, kurcaci-kurcaci ini menunjukkan keunikan masing-masing daerah yaitu antara lain melalui tari Saman, tapi Yapong, tari Kipas, tari Satria Brasta, dan satu lagi tarian khas daerah Papua, saya lupa namanya ;)

Lalu, hal spesifik apa yang membuat rasa nasionalisme saya tergugah? Pertama, multimedia yang mengiringi pertunjukkan operet ini. Di video yang ditampilkan sebagai pengiring para artis masuk dan memainkan perannya, ditampilkan gambar berbagai macam hal yang khas daerah tersebut. Wuih....di kesempatan pertama latihan, saya merasakan rambut-rambut halus di tangan saya berdiri. Merinding. Dari multimedia tersebut saya merasakan betapa besarnya Indonesia.

Kedua, ketika saya harus mengurus properti yang dibutuhkan para artis. Karena ini memperkanalkan budaya Indonesia melalui pakaian dan tarian daerahnya, otomatis saya bersentuhan dengan kostum-kostum para pengisi acara. Ketika memilih-milih baju, kembali, saya merasakan kekaguman yang luar biasa kepada tanah air kita ini. Ada banyak sekali baju daerah yang kita miliki. Bahkan, karena urusan baju ini pula sempat terjadi sedikit masalah antara kami (seksi properti) dan pemeran kurcaci dari Papua. Lho, masalah apa? Ya, teman saya yang berperan sebagai kurcaci Papua ini tidak mau mengenakan baju adat Papua. Tidak mau! Pokoknya tidak mau! Begitu katanya.

Teman-teman tahu apa yang membuat dia tidak mau mengenakan baju adat tersebut? Yup! Pasti karena dalam pikirannya baju adat Papua adalah koteka. Memang benar, koteka adalah pakaian adat dari sana. Tapi, ada satu hal yang mungkin teman-teman belum tahu. Ternyata Papua juga memiliki satu baju adat lain. Modelnya mirip dengan baju adat Dayak, hanya saja ciri khasnya beda, baik dari warna maupun dari ornamen. Sayang, di foto yang saya unggah di atas tidak terlihat baju adat Papua ini. Tapi, intinya, dari sini saya sadar, kita orang Indonesia memang masih sedikit saja tahu tentang Indonesia.

Mengenai kostum ini, masih ada hal menarik bagi saya. Ini kali pertama saya mengurusi orang-orang mengenakan beberapa pakaian daerah. Yang tersulit bagi saya malam itu adalah memakaikan dan mendandani MC dan kurcaci dari Bali. Karena acara ini diadakan di Bali, MC mengenakan pakaian Bali pula. Agak rumit, tapi menyenangkan membantu mereka berdandan.

Dari pentas ini, saya baru tahu bahwa tari Satria Brasta itu keren banget! Tarian ini merupakan satu rangkain cerita. Jika kita mengikutinya secara seksama, kita akan merasakan emosi dari setiap gerakan itu berbeda. Emosi kita akan terbawa oleh tangan, kaki, dan tubuh para penari ini menjadi suatu fluktuasi yang tidak terkira. Saya tidak menyangka sedemikian hebatnya budaya kita ini.

Lain lagi tari Kipas. Melihat tarian ini, saya terpesona dengan warna-warni cerah yang disuguhkan para penarinya. Gerakan demi gerakan terlihat anggun. Saya pun berdecak kagum dengan kebudayaan kita yang satu ini. Betapa tiap daerah di Indonesia memiliki keunikan masing-masing.

Satu hal lagi yang menarik perhatian saya adalah tarian dari daerah Papua. Kontras dengan tari Kipas, tarian ini benar-benar menggugah semangat juang. Hentakan-hentakan kaki para penari disertai teriakan khas mereka membuat kita bangun dan memusatkan pandangan mata kita ke mereka. Ya, saya tergugah, betapa hebat negeri kita ini!

Mengikuti pentas ini dari awal sampai akhir, menjadi bagian dari pertunjukkan ini, sejak persiapan sampai dengan selesai, membuat saya semakin mencintai negeri sendiri. Seperti perasaan yang saya rasakan ketika berada di negeri asing, kala itu saya benar-benar rindu Indonesia. Sebab, meski saya berada di dalamnya, saya tidak tahu banyak tentangnya. Sekarang, saya pikir, tidak ada alasan lagi bagi kita orang Indonesia untuk tidak mencintai negeri kita sendiri.

Pentas di Bali kemarin baru menyuguhkan sedikit dari sekian banyak hal yang kita miliki. Namun yang sedikit itu mampu membangkitkan rasa nasionalisme saya. Kalau tujuh kurcaci bisa mengenal Indonesia dengan baik, mengapa kita tidak? Mari kita bersama berseru, "Saya orang Indonesia, saya cinta Indonesia!"



Wednesday, June 8, 2011

Nusa Dua Bersama Ilusi


Jejak-jejak nampak di sana
Meninggalkan kenangan sejenak di nusa dua
Hanya beberapa hari
Terengkuh dalam ilusi-ilusi surgawi

Ada bulan yang tidak bulat
Ada kulit-kulit yang tidak cokelat
Ada gelora yang menghangat
Ada risau yang menggeliat

Nusa dua di awal Juni
Menyisipkan kerinduan untuk kembali
Menapakkan kaki di lautnya
Melayang di pasir pantainya

Sendiri, berdua, atau berlima
Semua keindahan ini semu tanpamu
Kemudian kudengar karang berkata
Bernyanyilah dengan anginmu
Tertawalah dengan awanmu
Melukislah dengan langitmu
Tinggalkan semuamu di sini
Akan kubingkai untuknya

Nusa dua di petang hari
Dengan anginnya, awannya, langitnya
Hanya menyayat perih di sanubari
Sebab semua imaji surgawi ini semu
Dan pilu sakit tanpamu ini nyata

Kutinggalkan semuaku di sana
Sang karang membingkainya
Untuknya yang terkasih
Suatu saat aku kembali