Tuesday, September 20, 2011

Tentang Menang dan Kalah

Tentang nilai-nilai yang kita tanamkan kepada anak-anak kita. Kadang terasa berat baik buat kita maupun buat mereka, tapi mereka harus mengalaminya, harus mengetahuinya.

Di perayaan Agustusan lalu di lingkungan rukun tetanggarumah kami, Raisha ikutan lomba mindahin air pake sponge dari garis start ke garis finish. Dia dan beberapa anak yang menjadi lawannya dalam lomba itu diberi waktu tertentu untuk bolak balik mencelupkan sponge ke dalam baskom berisi air di garis start, membawanya lari ke garis finish, lalu memeras sponge tersebut ke dalam baskom yang sudah disediakan di situ.

Di garis start saya berdiri untuk menyemangatinya. Di ujung sana, di garis finish, pengasuhnya berdiri menunggunya datang, juga untuk menyemangatinya. Saya tahu, dia belum mengerti apa maksud lomba itu. Yang dia tahu dia hanya diminta untuk menuruti kata-kata saya. Sebelum mulai saya beri instruksi kepadanya, "Kakak, nanti busanya Kakak masukin ke sini, trus Kakak lari ke Mbak Ci, trus peres begini ya...trus kalo udah, Kakak balik lagi ke Ibu. Ok?"

Pluit tanda dimulainya lomba pun dibunyikan, mulailai Raisha beraksi. Dia lakukan apa yang saya perintahkan tadi. Dia mengerti, alhamdulillah. Yang lucu pas dia lari. Ebal ebol ebal ebol pantatnya megal megol bergoyang karena langkah-langkah kecilnya yang lucu. Bolak-balik, kelelahan, dan.....priiit...terdengar bunyi tanda lomba usai. Setelah dilihat hasilnya....eng ing eng.....ternyata Raisha juara dua!!!! Senangnya. Ini pengalaman menang pertama Raisha.

Raisha (kanan) dan hadiahnya

Lain lagi cerita tentang Agustusan di sekolahnya (Raisha ikut PAUD di TK dekat rumah kami). Lomba yang Raisha ikuti yaitu lomba menempelkan alat indra ke gambar yang disediakan. Di garis start ada gambar-gambar alat indra, lalu digaris finish ada gambar wajah. Raisha harus menempelkan alat-alat indra itu dengan cepat dan tepat. Karena saat itu adalah hari kerja, saya tidak bisa menemaninya, saya hanya titip pesan ke pengasuhnya. "Ci, nanti kamu kasih semangat ke Kakak ya, tapi jangan kamu bantuin nempel-nempel biar dia aja sendiri."

Singkat cerita, Raisha kalah. "Kakak kalah, Bu, temen-temennya pada dibantuin Mbaknya, dibantuin ibunya," kata pengasuh Raisha. Saya cuma bilang, "Ga pa pa ^_^ yang penting dia kerja sendiri." Inilah pengalaman kalah pertama Raisha.

Senang rasanya mengetahui anak kita bisa berkompetisi dan memenangi suatu perlombaan. Berat rasanya menerima kekalahan. Dalam suatu perlombaan, menang atau kalah adalah hal yang biasa. Sama seperti pengalaman Raisha atas dua lomba yang diikutinya, menang kalah adalah biasa.

Saya apresiasi kemenangannya, saya pupuk percaya dirinya, saya puji dia atas keberhasilannya. Dari kekalahannya, saya pun memujinya karena sudah berani bekerja sendiri, menyelesaikan tugasnya sendiri. Dan...tanpa mengurangi rasa hormat saya pada orang tua yang membantu anaknya di perlombaan tersebut, saya hanya ingin menanamkan nilai-nilai sportivitas pada Raisha. Itu saja. Kelak ia akan tahu maknanya.


Friday, August 26, 2011

Tentang Suami dan Isteri

Well, karena ada satu urusan, semalem saya pulang sendiri, ga dijemput ramon. Ketemulah saya dengan seorang teman lama. Saling tanya kabar, akhirnya obrolan didominasi oleh topik dewasa; kewajiban suami istri. Eits, kewajiban yang mana nih? Banyak hal, intinya dia ngoceh tentang peran dan tanggung jawab suami dan istri. Mungkin karena dia lebih tua, lebih dulu menikah, lebih banyak pengalaman, jadinya dia seperti ngasih wejangan ke saya.

Satu hal yang terngiang2 sampe pagi ini adalah ucapannya tentang senyumnya seorang isteri kepada suami adalah ibadah. Gitu katanya. Enak kan, senyum aja bernilai ibadah. Katanya lagi gitu. Trus saya nginget2, saya banyakan senyumnya atau cemberutnya ya? Hahahahaa.......

Trus dia juga ngomong tentang betapa beratnya tanggung jawab seorang suami. Kalau suami salah, dia yang berdosa. Kalau istri salah, bukan cuma isteri, tapi suami jg berdosa. Intinya, seperti itulah gambaran tanggung jawab seorang suami kepada isteri.

Tentang istri yang suka nuntut lebih. Nah lho, saya jadi mikir lagi, jadi merefleksikan ke diri sendiri. Tentang istri yang matere hehehehe..... katanya, tuntutan itu juga harus realistis. Jangan sampai suatu tuntutan itu memberatkan pihak lain; isteri memberatkan suami atau sebaliknya. Heee.....saya langsung kepikiran suatu suku yang ceweknya dikenal dengan predikat cewek matere deh hehehe....Ups, saya ga nyebut nama suku lho ya di sini. Kalo ada yang ngerasa, no offense yach. Anyway, saya setuju dengan hal itu. Percuma juga bikin tuntutan yang ga realistis. Alih2 memacu kebaikan nanti malah memicu pertengkaran. Ya nggak?

Nah, trus, tentang kondisi menerima pasangan kita apa adanya. Yang dimaksud apa adanya di sini menurut teman saya adalah bukan saklek mandeg menjadi diri kita apa adanya yang banyak kekurangan, tapi terus memperbaiki diri dari waktu ke waktunya. Setuju banget deh sama yang satu ini.

Terus....terus...terus....saya jadi inget ucapan seorang psikolog terkenal, Sarlito Wirawan. Katanya, dalam mempertahankan rumah tangga itu bukan hanya cinta yang dikembangkan, tapi juga rasa tanggung jawab. Kata Sarlito, cinta dalam suatu rumah tangga paling lama bertahan selama tiga tahun, selebihnya, yang harusnya berkembang adalah rasa tanggung jawab dan komitmen terhadap pasangan dan keluarga. Sarlito juga bilang, walau sudah menikah, masing-masing pihak juga boleh tetap menjadi dirinya sendiri. Beri pasangan kita privasi dan kepercayaan, misalnya dengan tidak menanyakan password email atau akun jejaring sosialnya. Hmm.....tapi kalo pin atm kayaknya harus deh ;p Pasangan tidak boleh mengekang. Jangan buat hal2 kecil menjadi pemicu keributan. Gitu katanya.

Gimana menurut teman2?

Sunday, August 21, 2011

....dari Bintaro...

Di luar rencana, jam delapan malam kami masih di jalan. Padahal kami memperkirakan jam 7 udah di rumah lagi, biar si mbak2 bisa sholat teraweh di musholla deket rumah. tapi ya karena yang kami cari ga ketemu2, plus jalanan macet, jadi kami baru sampe rumah jam 9 kurang. huft,....

masjid2 dan musholla2 memang masih terisi orang2 yang sholat berjamaah, tapi itu ga seberapa. idealnya masjid itu penuh terisi, tapi rupanya orang2 termasuk kami lebih memilih ada di luarnya dengan berbagai alasan. sebagai gantinya, mal2 penuh dipadati orang2 yang sibuk cari keperluan lebaran. miris kan? lebih miris lagi, saya dan suami termasuk orang2 yang ada di dalamnya. astaghfirullah....tahun demi tahun selalu saja seperti itu, menjelang akhir ramadhan, jamaah masjid pindah ke mal.

di perjalanan pulang, saya liat ke pinggir2 jalan. mengapa di mata saya sekarang lebih banyak pemulung berkeliaran? mungkin mereka juga bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan lebaran. sedih ya? sekeras apapun mereka mencoba, tapi tetap saja.....

sepanjang jalan bintaro itu saya lihat lebih dari 10 pemulung, beberapa di antaranya bersama keluarga mereka. di depan sebuah cheese cake shop di daerah bintaro, saya lihat seorang wanita mendorong gerobak, di depannya seorang laki-laki, dan di atas gerobak itu tergeletak dua anak - laki-laki dan perempuan - terlelap. ya tuhaaaan.....