Tuesday, March 1, 2011

Scene 12 - Scene 17


Scene 12:
Pukul enam tiga puluh pagi. Celana panjang hitam, kaos manset abu-abu, vest hitam. Dengan terburu-buru saya ambil jilbab saya, hari ini saya pilih motif tribal hitam di atas warna dasar abu-abu. "Sudah setengah tujuh, saya harus cepat-cepat. Hari Senin biasanya macet, apalagi hujan, bisa-bisa Ramon telat," gumam saya dalam hati. Jadi, saya pikir pagi ini berangkat tanpa make up. Ah tidak, tapi ga enak diliat, pikir saya sambil bercermin, akhirnya saya buka tas kosmetik saya, setidaknya pakai bedak saja. Baru saja saya pegang kotak bedak dan hendak membukanya, tiba-tiba sambil berlari, Raisha masuk dan memanggil saya. "Ibu, Ibu, kakak mau pipis," katanya. Saya letakkan kembali kotak bedak itu ke dalam tas kosmetik saya, lalu saya antar si kakak ke kamar mandi, pipis.

Scene 13:
"Pake celana sama Mbak Ci ya, Kak?" Seru saya kepada si Kakak. Si kakak tidak menjawab, dia langsung berlari ke arah adiknya yang sedang duduk di depan televisi sambil memakan biskuit. "Ci, tolong bantu kakak pake celana dulu, Ci," ucap saya kepada pengasuh kakak. Sebelum kembali ke kamar dan bersiap-siap lagi, saya sempatkan untuk menyapa Raihana, si adik, dan seperti biasa, dia senyum-senyum malu. Saya sapa dia, saya ciumi, saya gendong-gendong sesaat, barulah saya kembali ke kamar. Sementara itu si kakak sudah diurus pengasuhnya. Sudah siang, Ramon sudah benar2 rapi, tinggal brangkat, jadi, saya putuskan untuk langsung pakai jilbab saja. Saya tutup tas kosmetik saya yang tadi terbuka, tidak jadi pakai bedak, langsung pakai jilbab, setelan jas hujan, kaos kaki, sepatu, pamit sama anak-anak, masker, helm, berangkat. Seperti biasa, kakak mengucapkan ungkapan sayangnya ke saya, "a cu cu... (I Love U)....

Scene 14:
Pukul delapan lebih sepuluh kami sampai di kantor saya. Dengan setelan jas hujan, langsung saya masuk ke gedung kantor saya, tempat pertama adalah toilet. Lepas setelan jas hujan, cuci kaki, cuci tangan, buka jilbab, dan cuci muka. Sampai sini saya masih sendiri di toilet ini. Lalu masuklah satu orang memakai rok hitam, kemeja garis-garis biru putih, sandal jepit merah muda, menenteng payung di tangan kanannya, dan tas di bahu kirinya. Letakkan payung, cuci kaki, lalu berdirilah ia di samping saya yang sedang bercermin sambil mengeringkan wajah dan tangan saya dengan tisu. Masuk lagi dua orang, ups, tambah tiga orang lagi, total ada tujuh orang di toilet ini. Gerakannya hampir sama. Melepas sandal, mencuci kaki, mengeringkannya, lalu bercermin. Jadilah tujuh orang perempuan bekerja bercermin. Empat orang di cermin satu, tiga orang di cermin satunya lagi. Kami semua mengambil tas kosmetik kami masing-masing.

Scene 15:
Saya buka tas kosmetik saya dan eng ing eng...."Lho, mengapa ada remah-remah makanan di sini? Kotor sekali," ucap saya dalam hati, keheranan. Saya lihat-lihat lagi di dalamnya dan tahu apa yang saya temukan di tas kosmetik saya? Sisa biskuit si adik! Separonya ada di dalam tas ini, masih jelas terlihat, dan lainnya sudah hancur menjadi remah-remah tadi rupanya. Oh tidak....anak-anak....ada saja cara mereka membuat saya tersenyum, termasuk melalui potongan biskuit di dalam tas kosmetik.

Scene 16:
Akhirnya mulailah saya polas poles. Setelah pelembab, lalu bedak, dan eng ing eng.... "Lho, ini bedak yang baru saya beli minggu lalu dan kemarin masih padat penuh. Yang saya lihat pagi ini, kotak bedak yang isinya bukan bedak padat lagi tapi sudah menjadi serpihan-serpihan kecil, ada bekas cungkilan-cungkilan di bagian yang masih tersisa sedikit. Oh tidak...lagi-lagi, anak-anak, mereka selalu membuat saya tersenyum.

Scene 17:
Setelah bedak, eyeshadow. Pink atau cokelat tua? Saya pilih cokelat tua. Oles-oles tipis, lalu selanjutnya eye curlier, dan bagian alis. Hanya untuk penegasan saja, saya torehkan garis-garis tipis pensil alis. Oo..sesak sekali area berdandan ini. Posisi saya kedua dari kanan. Satu orang auditor keuangan di sebelah kanan saya dan di sebelah kiri saya ada dua orang lagi; satunya staf sebuah travel agent, lainnya staf sebuah bank swasta di gedung ini. Untuk bagian alis ini, saya harus hati-hati, untuk itu saya butuh space lebih lebar untuk tangan saya. Tapi tidak kali ini, saya terjepit di antara dua wanita yang melakukan hal yang sama dengan saya. Ya sudah, dengan hati-hati saya mulai 'menegaskan' alis saya. Yang kanan terlebih dahulu. Oke, rapi. Sekarang yang kiri. Tiba-tiba saya dengar, "Eeh, sori, Mbak," si auditor menyenggol saya bersamaan dengan saya menarik garis alis. Hasilnya? Saya perhatikan tidak sama, kanan lebih ada lengkungan, kiri agak datar. Huft....

6 comments:

☺☺☺ said...

huahahahahha kasian banget. lagian sih dandan rame-rame gitu. kenapa ga pake kaca yang ada di make up aja mbak ;p daripada dempet-dempetan. jadi ngaruh ke alis kan. aku malah lebih sering make up di mobil. kadang malah nyiapin kaca sedang buat di bawa gitu kemana-mana biar enak =.= emang banci gaya kayanya sih.

Rubiyanto Sutrisno said...

waktu yang berjejal, padat dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin ......

Todi saja said...

maaf baru berkunjung mbak...mang agak ribet ya jadi wanita (eh..iya ga sih...??)

tapi emang kelakuan anak2 se ga masuk akal pun di pikiran kita orang tua, bisa bikin tersenyum dan bahagia...(duh jadi kangen hanif..hiks hiks)

Meutia Halida Khairani said...

kalo di kantor saya sih toiletnya banyak, yg ngisi dikit. jadinya berdua di toilet aja jarang. bisa puas2 deh dandan habis2an..

TUKANG CoLoNG said...

saya salut ama cewek, bisa dandan dimana dan kapan aja. tapi kalo kayak gini, wah berabe urusanye

-rif said...

Ata: aku ga semaniak itu sih sama make up, yg penting rapi (bilang aja ga punya kaca ya? hehehe...)
Rubiyanti: iya, Mas, belum lagi ditambah laper. Wah....komplit deh.
Todi: sabar ya, Mas, Hanif juga pasti kangen ayahnya ;)
Sukra: hehehhee...itu salah satu keunikan kami :)